MMCNEWS.ID | Kabar manis datang dari harga cengkeh basah di kawasan lereng Gunung Anjasmoro, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Tahun ini, harga komoditas perkebunan tersebut merangkak naik hingga Rp 39.000 per kilogram, dari sebelumnya sekitar Rp 33.000 per kilogram.
Namun, kenaikan harga itu ternyata belum menjadi kabar baik sepenuhnya bagi petani. Pasalnya, di balik harga yang melonjak, produksi cengkeh justru anjlok. Salah satunya dialami petani asal Desa Galengdowo, Endon Siswoyo, yang harus menerima kenyataan hasil panennya tahun ini turun drastis.
Jika pada musim sebelumnya lahannya mampu menghasilkan sekitar 6–7 kuintal cengkeh, tahun ini Endon hanya bisa membawa pulang sekitar 1–2 kuintal. Harga memang naik, tetapi volume panen yang merosot membuat pendapatan petani tetap tertekan.
“Panen tahun ini menurun drastis. Kalau berbuah normal bisa dapat 6–7 kuintal. Tahun ini hanya sekitar 1–2 kuintal,” ujar Endon, Jumat (11/9/2026).
Endon mengatakan, kenaikan harga cengkeh basah tidak terlepas dari minimnya pasokan. Banyak pohon cengkeh di wilayah Wonosalam tidak berbuah maksimal sehingga jumlah komoditas yang beredar di pasaran ikut berkurang.
“Alhamdulillah harga memang naik. Kalau cengkeh jarang berbuah, harga pasti naik. Sebaliknya kalau panen raya, harga biasanya turun,” tuturnya.
Endon sendiri mengelola lahan seluas sekitar 4.500 meter persegi dengan 40 pohon cengkeh, terdiri dari varietas Zanzibar dan cengkeh merah.
Menurutnya, cuaca ekstrem yang sulit diprediksi menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi produktivitas tanaman tahun ini.
Padahal, tanaman cengkeh membutuhkan kondisi pohon, tanah, dan iklim yang relatif stabil agar mampu berproduksi optimal. Pohon cengkeh sehat yang telah berusia lebih dari 35 tahun bahkan secara ideal dapat menghasilkan lebih dari 60 kilogram dalam satu kali panen.
Di Wonosalam, musim panen cengkeh umumnya berlangsung mulai akhir Juli hingga awal September. Waktu panen bisa berbeda-beda, tergantung ketinggian lahan dan kondisi geografis masing-masing wilayah.
Bagi petani, situasi tahun ini menjadi gambaran bahwa harga tinggi belum tentu berarti untung besar. Ketika produksi jatuh terlalu dalam, kenaikan harga justru belum mampu mengimbangi kehilangan hasil panen.
“Meskipun harga naik, itu belum tentu menutup biaya operasional dan produksi karena hasilnya turun drastis,” pungkas Endon.
Reporter: Adi















