BOJONEGORO – Setelah ramai sorotan soal menu nasi jagung yang dinilai hambar, kini muncul persoalan baru terkait penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Kepohbaru Kepoh 2 untuk sasaran B3 (Bumil, Busui, Balita) di Posyandu Desa Krangkong, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro.
Sisa menu MBG B3 dari SPPG Kepohbaru Kepoh 2 menumpuk di atas meja Posyandu Desa Krangkong pada Senin (2/11/2026). Foto yang diterima redaksi pada Jumat (6/11/2026) tersebut memperlihatkan kondisi pada Senin (2/11/2026) pukul 11.12 WIB.
Foto tersebut menjadi bukti paling kuat. Bukan satu dua porsi yang tersisa, melainkan tumpukan paket makanan dan potongan semangka kuning yang masih menumpuk, belum tersentuh sasaran.
Sisa menu itu akhirnya dibungkus ulang oleh petugas menggunakan kertas cokelat dan plastik, lalu dibagikan kepada warga sekitar yang mau menerimanya.
Berdasarkan dokumen resmi Badan Gizi Nasional (BGN), SPPG Kepohbaru Kepoh 2 mengirimkan total 89 porsi pada hari itu, terdiri dari 49 porsi kecil dan 40 porsi besar, dengan 89 foodtray stainless.
Menu yang dikirim SPPG Kepohbaru Kepoh 2 untuk program B3 Posyandu Desa Krangkong meliputi Nasi Ampok (nasi jagung), Fuyunghai, Tahu Goreng, Tumis Labu Siam dan Kacang Panjang, dan Semangka Kuning.
Dari pantauan awak media pada tanggal 2/11/2026, terlihat jelas tumpukan semangka kuning yang sudah dipotong dan dibungkus plastik, serta paket kertas cokelat yang menumpuk di meja. Dalam foto lainnya, terlihat ompreng stainless yang masih penuh berisi nasi ampok, fuyunghai, tahu goreng, tumis labu siam dan kacang panjang, dan semangka kuning.
Sisa menu yang menumpuk itu menunjukkan bahwa makanan tersebut tidak diambil oleh sasaran pada jam penyaluran.
Petugas Posyandu Krangkong berinisial MN membenarkan adanya sisa menu tersebut.
“Daripada tidak diambil, kami bungkus lalu diberikan kepada warga yang mau, biar tidak mubazir,” ujar MN saat dikonfirmasi awak media.
Menurut MN, sisa menu bukan karena warga menolak bantuan, tetapi karena cita rasa yang dinilai tidak sesuai. Pihak posyandu mengklaim telah berulang kali memberikan penilaian melalui form uji organoleptik serta menyampaikan kritik secara lisan kepada pihak penyedia.
Sisa menu yang menumpuk itu bersesuaian dengan dokumen Berita Acara Serah Terima Barang dan Uji Organoleptik Nomor 539/DISTRIBUSI/SPPGKEPOH2/X/2026 untuk lembaga B3 Posyandu Krangkong.
Hasil uji organoleptik dengan skor 1-5 menunjukkan:
Tumis Labu Siam & Kacang Panjang: Rasa 2, Warna 2, Aroma 2, Tekstur 2 (Kurang di semua aspek),. Fuyunghai: Rasa 3 (Cukup), Aroma 2 (Kurang),. Nasi Ampok: Rasa 3, Warna 4, Aroma 4, Tekstur 4,. Tahu Goreng: Rasa 3, Warna 4, Aroma 4, Tekstur 4,. Semangka Kuning: Rasa 4, Warna 4, Aroma 4, Tekstur 4
Di bagian bawah dokumen, terdapat catatan tangan yang berbunyi: “Kurang asin hambar tahunya”.
Salah seorang warga Desa Krangkong yang meminta identitasnya dirahasiakan menuturkan, sisa menu tersebut sayang jika dibuang.
“Menunya kata mereka tidak sesuai dan hambar, jadi tidak ada yang mengambil. Sayang kalau dibuang, akhirnya dibungkus oleh petugas dan dibagikan ke warga yang lewat,” tuturnya.
Sisa menu tersebut berasal dari dapur SPPG Kepohbaru Kepoh 2 dan disalurkan di Posyandu Desa Krangkong, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro.
MN juga menyoroti standardisasi menu yang dinilai belum membedakan kebutuhan antar-kelompok sasaran.
“Menu MBG untuk B3 tetap disamaratakan, tidak ada bedanya (antara porsi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita),” ungkapnya.
Warga mendesak agar Badan Gizi Nasional (BGN), Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro, dan Puskesmas Kepohbaru segera melakukan evaluasi terhadap operasional dapur dan menu SPPG Kepohbaru Kepoh 2, serta membuka transparansi data porsi yang benar-benar dikonsumsi sasaran, agar sisa menu yang menumpuk seperti ini tidak terulang.
Sebab, jika menu terus tersisa dan hanya berakhir menjadi bansos dadakan, maka tujuan utama program MBG untuk meningkatkan gizi Bumil, Busui, dan Balita dinilai tidak akan tercapai secara optimal.
Sesuai asas keberimbangan dalam Kode Etik Jurnalistik, awak media telah berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait. Hingga berita ini diterbitkan, pihak SPPG Kepohbaru Kepoh 2, mitra yayasan pengelola, maupun Koordinator MBG Kabupaten Bojonegoro belum memberikan pernyataan resmi mengenai sisa menu dan hasil uji organoleptik tersebut.
Redaksi tetap membuka ruang hak jawab serta klarifikasi lebih lanjut bagi seluruh pihak terkait guna keberimbangan informasi. (Red)












