“Selama bertahun-tahun Bojonegoro ditopang oleh industri migas yang bersifat ekstraktif dan memiliki batas waktu. Karena itu, masa depan tidak hanya ditentukan oleh apa yang digali dari bumi, tetapi oleh ide, kreasi, dan inovasi warganya,” tandasnya.
Bolo Festival menjadi bukti bahwa kreativitas dapat menjadi energi baru bagi Bojonegoro.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menegaskan komitmennya memajukan ekonomi kreatif sebagai alternatif industri pasca migas.
Dirinya juga menjelaskan, pembentukan Komite Ekonomi Kreatif (KEK) dan pembangunan Bojonegoro Creative Hub (BCH) merupakan langkah nyata menghadirkan wadah kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas, akademisi, hingga pelaku usaha di masa depan.
“Dalam festival ini, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro juga kembali meneguhkan visi besar untuk mewujudkan Bojonegoro Bahagia, Makmur, dan Membanggakan, dengan lima misi pembangunan dan penguatan City Branding Medhayoh Bojonegoro,” ujarnya.
Melalui branding ini, Bupati Wahono ingin Bojonegoro menjadi tuan rumah yang ramah, baik, dan mengesankan sehingga siapa pun yang medhayoh (bertamu) akan selalu rindu untuk kembali.
“Semoga festival ini menjadi energi baru dan harapan baru bagi Bojonegoro yang kreatif dan kolaboratif,” pungkasnya. (Pro/Dik)















