“Waktu memeriksa dokter dengan nada kasar bilang kalau kehamilan kosong dan tidak ada detak jantung, hanya ada kantung janin. Saat saya jawab jika pemeriksaan di dokter spesialis Obgyn sebelumnya janin ada dan memang masih kecil sudah berjalan enam Minggu tapi dengan nada ketus, dokter puskesmas bilang, jika itu kan di dokter lain, beda dengan disini. Dan saya tidak mau tahu diagnosa dokter lain,” lanjutnya.
Mengetahui kondisi kehamilannya dengan diagnosis tidak sesuai harapan CA merasa kecewa dan sedih hingga membuat kehamilannya mengalami pendarahan dan mengakibatkan keguguran.
“Setelah mendengar diagnosis hamil kosong serta dokter mengatakan telah banyak pasiennya yang mengalami hal serupa atau hamil kosong tindakan selanjutnya, dokter itu bilang harus melakukan kuret. Dari ucapan dokter Puskesmas tersebut saya langsung drop, kepikiran hingga timbul flek dan harus melakukan tindakan kuret,” ungkap CA.
Hingga berita ini ditayangkan pihak bersangkutan serta Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro saat dihubungi awak media ini belum memberikan tanggapannya.(Red).















