Kabupaten Bogor | MMCNews.id – Kisah peliputan yang seharusnya mengungkap kebenaran justru berbalik menjadi masalah bagi sekelompok jurnalis. Mereka berhasil diselamatkan dari amukan massa yang diduga diprovokasi istri Kepala Desa (Kades), namun kemudian menghadapi tuduhan pemerasan dan uang pribadi mereka sebesar Rp40 juta yang disita – hingga kini belum diketahui keberadaannya, padahal Kapolsek menyatakan telah mengembalikannya.
Agus, salah satu jurnalis yang terlibat dalam peliputan, menceritakan kronologi kejadian yang penuh tekanan. “Semua terjadi sangat cepat. Awalnya istri Kades datang dan menawarkan Rp10 juta karena merasa kegiatan ilegalnya yang kita dokumentasikan terganggu. Kami langsung menolak dan ingin pergi, tapi dia meminta kami tunggu dengan alasan akan mencari tambahan uang,” ujarnya.
Tak lama setelah istri Kades pergi, massa misterius yang tidak diketahui dari mana datangnya tiba-tiba menerjang lokasi. Menurut dugaan para jurnalis, massa tersebut diprovokasi oleh istri Kades yang khawatir dugaan pesta narkoba dan kegiatan ilegal di desa tersebut akan terbongkar.
“Untungnya pihak Polsek Lewiliang datang tepat waktu dan membawa kami semua ke kantornya untuk menjaga kondusifitas. Namun ketika sampai di sana, kami malah dituduh melakukan pemerasan oleh pihak desa. Untung tidak ada bukti sehingga kami dibebaskan,” jelas Agus dengan nada kecewa.
Yang lebih membuat heran, uang sebesar Rp40 juta yang dibawa para jurnalis disita oleh pihak kepolisian dengan alasan sebagai barang bukti. Padahal mereka menegaskan tidak menerima sepeserpun dari pihak desa, dan hingga saat ini mereka belum tahu ke mana uang tersebut hilang.
Ketika dikonfirmasi melalui telepon pada malam hari tanggal 19 Desember, Kapolsek Lewiliang Kompol Maryanto membenarkan adanya penyitaan uang tersebut. “Benar, kami amankan uang Rp40 juta. Namun pada saat proses rekonsiliasi berlangsung, uang tersebut sudah kami kembalikan kepada pelaku usaha terkait dan kami tidak mengambil sedikit pun,” tegasnya.
Kompol Maryanto juga menambahkan bahwa informasi dari para wartawan terkait dugaan pesta narkoba dan kegiatan ilegal di Desa Sadeng sedang menjadi fokus penyelidikan pihaknya untuk menemukan kebenaran yang sebenarnya.















