Nurul Azizah menegaskan bahwa Pisang Ngambon hanyalah satu dari sekian banyak potensi lokal Bojonegoro yang layak diangkat. Sebelumnya, Pemkab telah mengapresiasi berbagai komoditas khas seperti Snack Balung Kuwuk dari Sukosewu, Belimbing Kalitidu, hingga Salak Wedi di Kecamatan Kapas.
“Bojonegoro kaya potensi. Yang dibutuhkan adalah keberanian, kolaborasi, dan inovasi agar potensi tersebut benar-benar memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” tuturnya.
Wabup Nurul menyebutkan bahwa riset lanjutan memang belum dilakukan, namun karakter rasa tersebut menjadi peluang besar menembus pasar yang lebih luas.
“Ke depan kami siap mendukung optimalisasi nilai jual melalui proses ripening dan degreening, agar kualitas pisang semakin kompetitif,” jelasnya.
Ditempat yang sama, Camat Ngambon, Ridwan Sayyadi, mengungkapkan bahwa minat pasar terhadap Pisang Ngambon terus meningkat. Saat ini, kebutuhan pasar mencapai sekitar 20 ton, bahkan sebagian besar dikirim ke luar daerah.
“Warga hampir semuanya memiliki tanaman pisang di pekarangan dan pematang sawah. Potensi ini sangat besar jika didukung pemasaran yang lebih luas dan pengembangan olahan pisang yang kreatif,” ujarnya.
Ridwan juga mendorong dukungan penuh Pemkab Bojonegoro agar Festival Pisang Ngambon dapat dipatenkan sebagai agenda resmi tahunan guna memperkuat ekonomi lokal secara berkelanjutan.
Pemkab Bojonegoro berharap sinergi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat mampu melahirkan lebih banyak produk unggulan daerah yang berdaya saing tinggi dan berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu, hadir pula Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta Dinas Kesehatan untuk memberi masukan konkret kepada masyarakat terkait pengelolaan potensi lokal secara terpadu. (Pro/Red/Dik)















