Panen Raya Tembakau di Ploso, Disperta Jombang Salurkan Ratusan Ton Pupuk, Mesin Rajang hingga Hand Tractor

  • Bagikan

MMCNEWS.ID | Sektor pertanian tembakau di Kabupaten Jombang kembali menunjukkan geliat ekonomi yang luar biasa. Dari hamparan lahan tembakau di kawasan Utara Brantas, komoditas yang selama ini menjadi tumpuan ribuan petani itu diproyeksikan mampu menggerakkan perputaran ekonomi hingga Rp487 miliar.

Potensi tersebut terungkap dalam agenda Pembinaan dan Panen Raya Tembakau 2026 yang digelar di Desa Bawangan, Kecamatan Ploso, Rabu (7/10/2026). Panen raya ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat dukungan pemerintah terhadap petani, mulai dari sarana produksi hingga alat mesin pertanian.

Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Jombang Warsubi, S.H., M.Si., Wakil Bupati Gus Salmanudin, S.Ag., M.Pd., jajaran Forkopimda, Sekretaris Daerah, Kepala Dinas Pertanian, serta para petani tembakau yang tergabung dalam APTI dan Gapoktan.

 

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Much. Rony, M.M., mengungkapkan bahwa hingga akhir September 2026, luas areal pertanaman tembakau di Jombang telah mencapai 6.508,7 hektare.

Sentra produksi terbesar berada di kawasan Utara Brantas, dengan Kecamatan Kabuh sebagai wilayah terluas, disusul Ploso, Plandaan, Kudu, dan Ngusikan.

“Produktivitas daun basah kita mencapai 15 hingga 17 ton per hektare. Jika dikalkulasikan dengan harga terendah Rp5.000 per kilogram saja, potensi ekonomi yang berputar nyaris menyentuh setengah triliun rupiah. Ada sekitar 15.000 petani yang roda perekonomiannya digerakkan oleh komoditas ini,” ujar Rony.

Besarnya potensi tersebut menunjukkan bahwa tembakau bukan sekadar komoditas pertanian biasa. Di kawasan Utara Brantas, tembakau telah menjadi bagian penting dari denyut ekonomi masyarakat.

Tak hanya mengandalkan produksi, Jombang juga mulai menunjukkan kemampuan dalam pengembangan benih varietas tembakau lokal bersertifikat. Bahkan, kualitas dan pengembangan benih tersebut telah menjadi rujukan studi bagi sejumlah daerah lain, di antaranya Gresik dan Blitar.

Melihat besarnya potensi ekonomi tersebut, Pemerintah Kabupaten Jombang terus memperkuat intervensi dan dukungan kepada petani tembakau.

Melalui APBD dan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun 2026, Pemkab Jombang memfasilitasi berbagai kebutuhan petani, mulai dari pelatihan, penyediaan demplot, hingga bantuan alat mesin pertanian dan sarana produksi.

Dalam kegiatan panen raya tersebut, Bupati Warsubi secara simbolis menyerahkan bantuan berupa 4 unit hand tractor rotary, 19 unit mesin rajang, 350.000 kilogram pupuk NPK khusus tembakau, serta 3 unit kendaraan angkut roda tiga.

Sejumlah petani dan kelompok tani yang menerima bantuan di antaranya Samuji dari Gapoktan Gedongombo, Kecamatan Ploso, yang mendapatkan mesin rajang tembakau.

Kemudian Solik dari Poktan Peyek, Desa Tanjungwadung, Kecamatan Kabuh, menerima traktor roda dua rotary. Sementara Tik Dewanto dari Poktan Bendungan, Kecamatan Kudu, dan Supali dari Gapoktan Kabuh menerima bantuan pupuk NPK tembakau.

Bupati Jombang Warsubi menegaskan bahwa peningkatan produksi tembakau harus berjalan beriringan dengan penguatan pemasaran dan kemitraan.

Menurutnya, tembakau Jombang memiliki karakter serta cita rasa khas yang menjadi modal penting untuk dikembangkan tidak hanya dari sisi pertanian, tetapi juga melalui sektor agribisnis hingga agroindustri.

“Petani membutuhkan kepastian pasar dan harga yang wajar, sementara pabrikan membutuhkan kualitas yang terjaga. Keduanya harus diuntungkan.

Ke depan, regenerasi petani juga harus didorong. Pertanian tembakau adalah sektor usaha yang memiliki masa depan cerah bagi generasi milenial,” kata Warsubi.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini terlibat dalam pengembangan tembakau Jombang, mulai dari petani, penyuluh pertanian, pelaku usaha, hingga pabrikan.

“Saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada para petani tembakau, penyuluh pertanian, pelaku usaha, pabrik, serta seluruh pihak yang selama ini turut mendukung pengembangan tembakau di Kabupaten Jombang.

Mari kita terus bangun kerja sama yang baik, agar tembakau Jombang semakin dikenal, semakin memiliki daya saing, dan semakin mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Bagi masyarakat di kawasan Utara Brantas, tembakau bukan sekadar tanaman musiman. Semboyan “Mati urip nandur mbako” bahkan telah lama melekat dalam kehidupan masyarakat.

Dengan luas lahan mencapai ribuan hektare, melibatkan sekitar 15.000 petani, serta potensi ekonomi yang mendekati setengah triliun rupiah, tembakau kini menjadi salah satu kekuatan penting ekonomi pertanian Jombang.

Sinergi antara pemerintah, petani, penyuluh, dan dunia usaha diharapkan mampu membuat tembakau Jombang tak hanya bertahan, tetapi semakin naik kelas, berdaya saing, dan memberikan kesejahteraan yang lebih besar bagi masyarakat.

Reporter: Adi

  • Bagikan