MMCNEWS.ID | Wajah Pasar Pon Jombang kini terbelah dua. Di satu sisi, lorong-lorong bedak resmi tampak lengang dan sepi. Di sisi lain, area parkir justru “berdenyut” kencang, disesaki pedagang yang ogah pindah demi menjaga dapur tetap ngebul.
Fenomena ini menjadi potret nyata betapa sulitnya menyatukan aturan birokrasi dengan realita ekonomi di lapangan. Meski Pemkab Jombang sudah menyediakan fasilitas di dalam, para pedagang punya alasan kuat untuk tetap bertahan di “garis depan” alias area parkir.
Bagi para pedagang, lokasi adalah segalanya. Bertahan di area parkir bukan bentuk pembangkangan tanpa alasan, melainkan strategi bertahan hidup.
Aksesibilitas Utama: Pembeli cenderung malas masuk ke bagian dalam pasar yang dinilai jauh dan pengap.
Visibilitas: “Di parkiran, orang lewat langsung lihat. Kalau di dalam, kadang pembeli nggak sampai ke belakang,” ungkap S (45), salah satu pedagang.
Beban Biaya: Sewa bedak sebesar Rp2–3 juta per tahun dirasa berat, terutama jika tidak sebanding dengan kunjungan pembeli.
Kondisi Fasilitas: Fasilitas di dalam pasar dikeluhkan kurang terawat, terkesan kumuh, dan minim perbaikan, sehingga daya tariknya kalah jauh dibanding area luar.

Keberatan pedagang untuk pindah tentu memicu masalah baru bagi kenyamanan publik. Area yang seharusnya menjadi tempat kendaraan kini berubah fungsi menjadi lapak darurat.
Akibatnya: Kemacetan Lokal: Lahan parkir menyempit drastis, terutama pada hari pasaran, memicu kepadatan kendaraan di akses keluar-masuk.
Kebocoran Potensi PAD: Ketidakteraturan ini menghambat optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Jombang dari sektor retribusi pasar dan parkir yang seharusnya lebih tertata.
Mantan Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Jombang, Drs. Suwignyo, sebelumnya menyatakan bahwa langkah koordinasi sudah dilakukan hingga tingkat UPT Pasar.
Namun, pantauan di lapangan hingga akhir Februari 2026 menunjukkan belum ada perubahan signifikan”, ujarnya. Kamis (26/2).
Penertiban saja tidak cukup. Dibutuhkan rekayasa arus pengunjung agar area dalam pasar ikut ramai, serta renovasi fasilitas agar pedagang merasa biaya sewa yang mereka bayar sepadan dengan fasilitas yang didapatkan.
Tanpa solusi win-win solution, Pasar Pon akan terus terjebak dalam dilema, tertib tapi sepi, atau ramai tapi semrawut.
Reporter: Adi















