MMCNEWS.ID | RSUD Kabupaten Jombang terus memperkuat upaya penanganan HIV/AIDS melalui pembenahan edukasi kesehatan reproduksi dan perluasan jangkauan deteksi dini. Langkah ini diambil untuk menekan angka penularan sekaligus mengikis stigma negatif terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV).
Direktur RSUD Jombang, dr. Puji Umbaran, menegaskan bahwa stigma sosial masih menjadi penjelang utama dalam penanganan kasus HIV. Padahal, virus ini tidak menular melalui interaksi harian seperti berjabat tangan, berpelukan, makan bersama, atau beraktivitas di lingkungan kerja.
Penularan HIV hanya terjadi melalui kontak berisiko tinggi diantaranya hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah yang tidak aman dan penularan dari ibu ke bayi tanpa penanganan medis yang tepat.
“ODHIV tidak boleh dikucilkan. Mereka tetap memiliki hak untuk hidup, bekerja, berkarya, dan bersosialisasi. Yang perlu dijaga adalah aktivitas yang berisiko menularkan, bukan membatasi kehidupan sosialnya,” tegas dr. Puji saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (24/7/2026).
Menepis ketakutan masyarakat, dr. Puji menjelaskan bahwa pasangan yang salah satunya hidup dengan HIV tetap berpeluang membangun rumah tangga dan memiliki keturunan yang sehat. Kuncinya terletak pada kepatuhan Terapi Antiretroviral (ARV) secara rutin, Konseling berkala dengan tim medis, serta penanganan medis yang tepat selama masa kehamilan dan persalinan.
Sebagai langkah dalam mengurangi kasus HIV RSUD Jombang mengusulkan perluasan pemeriksaan kesehatan pranikah, termasuk skrining HIV. dr. Puji menekankan bahwa tes ini bukan instrumen untuk membatalkan atau menghalangi pernikahan.
“Jika terdeteksi lebih awal, bukan berarti tidak boleh menikah. Hasil skrining menjadi dasar untuk konseling, pengobatan, dan pendampingan agar risiko penularan ke pasangan maupun calon bayi dapat dicegah secara optimal,” tambahnya.
Untuk memperluas jangkauan deteksi dini bagi kelompok berisiko, RSUD Jombang mendorong Pemkab Jombang untuk memasifkan program skrining.
Mengingat besarnya kebutuhan anggaran, RSUD Jombang membuka peluang kolaborasi dengan dunia usaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) serta dukungan donatur.
Saat ini, infrastruktur penanganan HIV di Kabupaten Jombang dinilai kian memadai
Di RSUD Jombang telah menyediakan layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) serta skrining Provider Initiated Testing and Counseling (PITC) berbasis indikasi medis di ruang perawatan, selain itu hampir seluruh puskesmas di Kabupaten Jombang telah dilengkapi fasilitas layanan VCT sukarela.
Meski fasilitas kesehatan sudah memadai, rasa takut untuk melakukan tes akibat stigma sosial masih menjadi tantangan terbesar. Sebagai solusi jangka panjang, RSUD Jombang menyoroti krusialnya pendidikan kesehatan reproduksi bagi kelompok remaja.
Sektor kesehatan, pendidikan, dan pemerintah daerah diharapkan dapat berkolaborasi memberikan pemahaman mendalam mengenai perilaku seksual yang bertanggung jawab sejak dini.
“Pendidikan reproduksi yang masif sejak dini akan membentuk generasi muda yang paham risiko dan mampu melindungi dirinya. Prinsipnya tetap sama, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati,” pungkas dr. Puji.
Reporter: Adi















