Dari peta rawan bencana yang dirilis, kecamatan di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo seperti Trucuk, Kapas, dan Baureno termasuk wilayah yang berisiko tinggi terhadap banjir tahunan. Sementara kecamatan di bagian wilayah selatan Bojonegoro seperti Temayang, Gondang, dan Sekar memiliki potensi tanah longsor dan banjir bandang akibat kontur wilayah perbukitan.
Sedangkan kawasan Bojonegoro barat seperti Tambakrejo dan Ngasem juga rentan terhadap angin kencang serta kekeringan saat musim kemarau.
“Upaya mitigasi terus dilakukan melalui edukasi kebencanaan serta optimalisasi sistem peringatan dini. Kami bekerja sama dengan perangkat desa, TNI-Polri, serta relawan untuk memastikan masyarakat siap menghadapi potensi bencana di lingkungannya masing-masing,” ungkap Ginuk.
Sebagai langkah lanjutan, pihaknya juga mendorong peningkatan partisipasi publik dalam pelaporan kejadian baik secara online (media sosial) dan offline serta pelatihan tanggap darurat melalui Desa Tanggap Bencana (Destana) agar dapat menekan resiko bencana seminimal mungkin serta meningkatkan keselamatan warga Bojonegoro semakin terjamin















