Bupati Setyo Wahono: Gayam “Kelas 1” Bojonegoro, 3.600 Hektar Sawah Jadi Kunci Ketahanan Pangan dan Dorong Kolaborasi CSR

  • Bagikan

BOJONEGORO – Bupati Bojonegoro H. Setyo Wahono rela membatalkan agenda padatnya demi hadir di program “Bupati Medhayoh”,  di Situs Perahu Besi Kuno, Desa Ngraho, Kec. Gayam, Bojonegoro, Jawa Timur. Kamis (11/06/2026).

“Sudah pasti akan repot mulai kemarin. Hari ini acara saya full sampai Bu Camat Purwosari ngerayu. Tapi saya mau cancel semua buat Bupati Medhayoh hari ini. Karena ini momen yang selalu saya tunggu, momen saya untuk ngobrol, diskusi, sekaligus menghilangkan kejenuhan,” ujar Bupati di hadapan perangkat desa, warga Gayam, tokoh masyarakat, komunitas seni, direktur BUMD, ExxonMobil, dan PEPSI.

Bupati menegaskan Gayam punya dua blok besar: blok pertanian di selatan jalan dan blok kawasan industri di utara. Dari data Camat, 3.600 hektar dari 5.055 hektar wilayah Gayam adalah sawah.

“Saya bisa sampaikan Kecamatan Gayam sakjane wong Bojonegoro ngene kelas 1. Lor/utara jalan itu kawasan pertanian, kidul/selatan jalan itu blok industri. Luar biasa. Kalau musim kemarau, produktivitas bisa 12-14 ton/hektar. Hari ini Dinas Pertanian bawa bibit gamagura, harapannya di atas 14 ton/hektar,” kata Bupati.

Ia juga menyoroti situs prasejarah di Ngraho. “Kalau masih ada bangunan TPA di atas situs prasejarah, yang malu bukan hanya Bupati. Ini PR kita bersama, terutama investor jauh yang ada di Gayam. Exxon, PEPSI sudah banyak kontribusi, tapi saya harap bisa maksimal biar malunya nggak terlalu,” tegasnya.

Bupati minta perusahaan migas dan BUMD fokus CSR ke sarana penunjang ekonomi. “Kami pisah dua, Gayatri dan domba pasti butuh. Tapi yang lebih penting sarana penunjang yang menggerakkan ekonomi masyarakat. Itu fungsi Medayoh, pelan-pelan kita penuhi,” ujarnya.

Ia memberi contoh tanah pertanian “urung tuek” alias nggak pernah istirahat jadi kurang subur. Solusinya butuh kekompakan petani: istirahatkan tanah 2-3 minggu.

“Tanah kuwi butuh tuek, Pak. Cara menungso ngono, wis gak enek lerene. (Tanah itu butuh tua pak. Cara manudia itu gak ada berhentinya/red). Ini butuh kekompakan, kolaborasi, terutama irigasi,” katanya.

Ide paling mencolok, Bupati mengusulkan skema kepemilikan irigasi bersama BUMDes dan BUMD. “Nanti Pak Gayam, Pak Katur bisa ikut jadi pemilik saham. 60% BUMDes/BUMD, 40% perseorangan. Jadi nggak hanya pemerintah desa atau perorangan yang nikmati, tapi kemanfaatannya global,” jelasnya.

Ia mencontohkan rencana bioetanol di wilayah Katur Gayam. “Ini momen harus kita tangkap. BUMD bisa tampil jadi bagian pemilik sahamnya,” katanya.

Bupati langsung memberi arahan teknis:
1. Jalan Usaha Tani/JUT: Jadi skala prioritas Dinas Pertanian 2026-2027
2. Embung: Kades diminta segera ajukan proposal. Fungsi embung: menahan air, menambah air tanah, mengurangi banjir, untuk pertanian
3. Puskesmas Gayam: Minta Exxon dan KFC support ruang IGD. “Kalau emergency di kawasan migas, jangan sampai larinya jauh ke RS Bojonegoro. Paling tidak IGD Puskesmas Gayam fasilitasnya ditambah,” pintanya

Bupati juga berpesan ke Penyuluh Pertanian Lapangan/PPL. “Teman-teman PPL hari ini di bawah layar pusat. Saya minta tolong update data dan treatment-nya disampaikan ke daerah. Pusat nggak akan pernah bisa ke lapangan. Regulasi baru harus bisa kolaborasi dengan Pemkab,” katanya.

Bupati menutup dengan mengajak semua pihak menangkap momen. “APBD turun, ADD turun. Tapi wong kepepet idene akeh. Bagaimana masyarakat sehat, ekonomi naik. Kepala desa harus cepat. Saya nggak panjang lebar, monggo unek-unek warga disampaikan mumpung kumpul semua,” pungkasnya.

Perlu diketahui, kegiatan dilanjutkan dengan dialog interaktif dengan warga. Bupati Medhayoh jadi sarana bagi warga masyarakat Bojonegoro untuk menyampaikan usulan, gagasan, ide, dan ktitik untuk mendapatkan solusi terbaik bagi pembangunan Bojonegoro yang lebih dan Bojonegoro Bahagia Makmur Membanggakan. (Red/Dik).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan