Meski dikenal garang dalam mengkritik kebijakan, GeNaH menunjukkan sisi lembutnya. Suasana haru menyelimuti ruangan saat puluhan anak yatim naik ke panggung untuk menerima santunan.
“Perjuangan sosial tidak akan lengkap tanpa empati. Bagi kami, anak-anak yatim adalah amanah. Perjuangan GeNaH bukan hanya soal angka dan data, tapi soal menghadirkan kebermanfaatan nyata bagi sesama,” ujar Hendro dengan penuh kehangatan.
Apresiasi: “Kritik Berbasis Data”Dukungan mengalir dari berbagai lini. Kapolsek Jombang, AKP Edy Widoyono, mengakui GeNaH sebagai mitra strategis yang aktif. Sementara itu, Budi dari Kesbangpol Jombang berharap GeNaH terus menjadi “mitra kritis yang konstruktif” bagi pemerintah.
Pesan mendalam juga datang dari aktivis senior, Hadi. Ia memberikan testimoni tajam mengenai nama GeNaH yang dalam bahasa Jawa berarti ‘jelas’ atau ‘benar’.
“Saya melihat GeNaH sudah cukup ‘genah’ dalam gerakannya. Empat tahun ini adalah momentum untuk tetap membumi. Jadilah pemberi solusi, bukan sekadar pencari kesalahan,” pesan Hadi.
Memasuki tahun 2026, GeNaH berkomitmen memperkuat pengawasan terhadap transparansi anggaran dan pelayanan publik. Bagi mereka, usia empat tahun barulah sebuah permulaan.
Selama ketidakadilan masih bersembunyi di balik meja birokrasi, GeNaH berjanji akan terus mengobarkan semangat perjuangan demi Jombang yang lebih adil dan transparan.
Reporter: Adi















