Hal yang membuat program ini disukai publik adalah efek dominonya. SPPG tidak bekerja sendirian. Kebutuhan bahan baku dapur (seperti sayur, beras, dan lauk-pauk) akan diambil langsung dari petani dan pedagang lokal di sekitar lokasi.
Ini berarti, Warga Miskin Mendapat pekerjaan tetap.
Petani Lokal, Mendapat pembeli pasti. Anak Sekolah, Mendapat asupan gizi berkualitas.
Wakil Bupati Jombang, Salmanudin, menyatakan kesiapan Jombang menjadi percontohan nasional. Saat ini, 7 titik SPPG telah siap beroperasi di wilayah Bareng, Diwek, Ngoro, dan Jombang kota.
”Harapan kami, program ini memberikan dampak nyata. Jombang siap menjadi contoh bagi daerah lain dalam keberhasilan pengentasan kemiskinan berbasis pemberdayaan,” ungkap Salmanudin dengan optimis.
Fasilitas Dapur SPPG di Jombang dijadwalkan mulai beroperasi penuh pada 8 Januari 2026. Penyerahan sertifikat pelatihan dan simbolis serapan tenaga kerja sudah dilakukan, menandai kesiapan para “pahlawan ekonomi” baru ini untuk mengubah nasib keluarga mereka.
Melalui sinergi lintas sektor (Kemenko PM, Badan Gizi Nasional, Kemensos, dan Kemnaker), program ini menjadi titik balik dari pola bantuan pasif menjadi pemberdayaan aktif. Jika piloting di Jombang ini sukses, target Indonesia bebas kemiskinan ekstrem di tahun 2026 bukan lagi sekadar mimpi.
Reporter: Adi















