Ricuh akibat Pengumuman Ditunda, Muktamar ke-35 NU di Jombang Sempat Diwarnai Adu Jotos

  • Bagikan
Oplus_131072

MMCNEWS.ID | Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang berujung ricuh pada Minggu (30/8/2026) siang.

Ketegangan tersebut dipicu antar peserta dan massa pecah setelah panitia tak kunjung mengumumkan hasil resmi pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) serta Rais Syuriyah.

Suasana panas bermula saat ratusan muktamirin dan massa simpatisan yang lama menanti kepastian mulai mendatangi area panitia.

Mereka mendesak transparansi dan penjelasan terbuka terkait kejelasan waktu pengumuman.

Lambatnya alur penyampaian informasi memicu aksi saling dorong yang bereskalasi menjadi perkelahian fisik di lokasi kegiatan.

Menanggapi situasi yang memanas, Yenny Wahid mengingatkan seluruh muktamirin untuk menahan diri dan kembali menyatukan komitmen pada pilar dasar organisasi.

Ia menegaskan bahwa pesan pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, wajib dijadikan pegangan utama dalam mengarungi dinamika organisasi.

“Dari founding asasi sebagai pegangan kita semua muktamirin, hal yang paling ditekankan oleh Mbah Hasyim Asy’ari adalah persatuan. Umat Islam tidak boleh terpecah belah,” tegas Yenny di lokasi acara.

Ia menambahkan, perbedaan pilihan politik organisasi tidak boleh menciderai ukhuwah nahdliyin, serta memintapara ulama untuk terus membimbing jajaran tanfidziyah.

Harapan serupa disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar. Ia meminta seluruh pihak yang terlibat untuk berkepala dingin dan mengedepankan kebijaksanaan ulama guna meredam friksi.

“Saya harap semua yang ada di sini, terutama para ulama kita yang akan membimbing mereka yang ada di tanfidz, betul-betul memegang teguh nilai persatuan tersebut,” kata Nasaruddin.

Aksi adu jotos ini menjadi ujian berat bagi jalannya Muktamar ke-35 NU. Saat ini, fokus seluruh peserta tertuju pada panitia penyelenggara untuk segera menyelesaikannya secara terbuka.

Keputusan akhir penetapan Rais Syuriyah dan Ketua Umum PBNU diharapkan mampu menjadi titik temu yang merekatkan kembali seluruh elemen Nahdliyin.

Reporter: Adi

  • Bagikan