Bojonegoro — Sejumlah pasien mengaku mengalami tekanan psikologis dan materi akibat diarahkan membeli obat di luar mekanisme resmi rumah sakit melalui skema multi level marketing (MLM) yang diduga ditawarkan oleh seorang oknum dokter. Ramai jadi perbincangan ini muncul dari salah satu pasien praktik tidak etis diduga dilakukan oleh oknum dokter dilingkup Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) milik Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
Salah satu narasumber saat diwawancarai awak media ini menuturkan, dirinya sempat menjalani perawatan rawat jalan akibat kondisi kesehatan tertentu. Namun, saat hendak melakukan kontrol lanjutan sesuai jadwal, dia justru tidak diperkenankan oleh dokter yang menangani. Alih-alih mendapatkan pelayanan medis lanjutan, pasien tersebut mengaku diarahkan untuk membeli obat secara pribadi melalui oknum dokter sebut.
Tekanan yang diterima, menurut narasumber, tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga psikologis. Ia mengaku mendapatkan pernyataan bernada ancaman yang membuatnya merasa takut dan terpaksa mengikuti arahan dokter tersebut.
“Penyakitmu itu parah. Kamu harus beli obat ini. Kalau tidak, otakmu bisa bocor dan kamu bisa mati sewaktu-waktu,” ujar narasumber, menirukan ucapan oknum dokter tersebut.
Pengakuan senada juga disampaikan narasumber lain. Dia mengaku diwajibkan membeli obat langsung dari dokter dengan sistem MLM. Nilai pembelian yang ditawarkan mencapai Rp18 juta, angka yang dinilai sangat memberatkan bagi pasien dan keluarganya.
“Saya harus membeli obat itu dengan harga Rp18 juta. Karena ketakutan, keluarga terpaksa berutang ke sana-sini, agar bisa membeli obat,” ungkapnya.
Narasumber tersebut kemudian memaparkan kronologi lebih lanjut. Saat dirinya masih berada dalam perjalanan dari Jakarta, oknum dokter yang disebut bertemu dengan kakak dan ayahnya. Dalam pertemuan tersebut, dokter menawarkan sebuah program pengobatan bertajuk TWS selama 90 hari dengan nilai sekitar Rp18 juta.
Karena keluarga pasien berniat memberikan pengobatan terbaik serta adanya penekanan bahwa pembayaran harus segera dilakukan agar obat dapat ditebus, narasumber akhirnya mentransfer dana ke admin dokter tersebut. Namun setelah tiba di rumah sakit, barulah diketahui bahwa program yang ditawarkan bukan merupakan bagian dari program resmi rumah sakit.















