Pandeglang -Banten | MMC – Kondisi gedung sekolah yang kusam dan kurang perawatan dinilai dapat berdampak pada kenyamanan serta konsentrasi siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Minimnya pemeliharaan rutin seperti pembersihan maupun perbaikan kerusakan ringan juga berpotensi menurunkan kualitas lingkungan belajar di sekolah.(12/03/26)
Hal tersebut terlihat pada bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sukamulya 2 yang berada di Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten. Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah bagian tembok sekolah tampak kusam dan kurang terawat. Selain itu, beberapa kaca jendela dilaporkan pecah bahkan tidak lagi terpasang.
Padahal, pemerintah setiap tahunnya mengucurkan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang salah satu peruntukannya adalah untuk pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah guna menunjang mutu serta kualitas kegiatan belajar mengajar.
Saat dikonfirmasi, Kepala SDN Sukamulya 2 berinisial (A) menjelaskan bahwa sekolah tersebut memiliki lokasi cabang yang masih berada dalam satu naungan SD Sukamulya, namun berada di lokasi yang berbeda.
“Bukan di sini saja, Pak. Ada cabangnya juga yang masih SD Sukamulya, lokasinya cukup jauh dari sini,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa jumlah siswa di dua lokasi tersebut berbeda. Di sekolah cabang terdapat sekitar 63 siswa dan hingga kini tidak memiliki ruang guru, sementara di lokasi utama jumlah siswa mencapai lebih dari seratus orang.
“Kalau di sana muridnya ada 63 siswa dan tidak ada ruang guru. Kalau di sini lebih dari seratus siswa. Total keseluruhan sekitar 200 siswa, yang masuk dapodik 197 siswa,” jelasnya.
Pemeliharaan sarana dan prasarana untuk hitungan selama satu tahun itu mulai dari semen 3 sak dan juga kursi murid,
Terkait pemeliharaan sekolah, kepala sekolah awalnya menyebutkan bahwa anggaran pemeliharaan maksimal sebesar 20 persen dari jumlah dana yang diterima. Namun beberapa saat kemudian ia menyampaikan keterangan yang berbeda.
“Pemeliharaan untuk sekolah di sini minimal 20 persen, bukan maksimal,” katanya.
Saat disinggung mengenai perubahan keterangan tersebut, kepala sekolah hanya terdiam tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Sementara itu, Dedi dari organisasi Gabungnya Wartawan Indonesia (GWI) DPD Provinsi Banten menyoroti kondisi bangunan sekolah yang dinilai kurang terawat.














