Klarifikasi Gagal Panen diDesa Kramatmanik : BPP Angsana Intensifkan Pengawasan,Petani Akui Dilema Faktor Ekonomi

  • Bagikan

Pandeglang-Banten | MMC – Sempat ramai di masyarakat terkait dugaan obat padi yang menyebabkan gagal panen diDesa Keramatmanik Kecamatan Angsana Kabupaten Pandeglang Banten.Pihak petani (korban)dan penjual akhirnya memberikan klarifikasi resmi. Kedua belah pihak telah melangsungkan musyawarah untuk mencapai mufakat.08/07/26

 

Kesepakatan damai setelah kedua belah pihak saling memahami posisi masing-masing dan memandang kejadian ini sebagai sebuah kemusibahan.

 

Berdasarkan keterangan dari pihak korban,mereka menyadari bahwa peristiwa ini murni merupakan ujian atau musibah,sehingga tidak perlu ada konflik yang berkepanjangan.Rasa saling percaya menjadi kunci utama tercapainya titik temu ini.

Hubungan kedekatan antara penjual dan petani menjadi faktor penting dalam meredam kesalahpahaman ini.Selain masih memiliki ikatan kekeluargaan, para petani yang terdampak merupakan warga tani dalam binaan dari inisial A.D sendiri.

 

“Karena ini bisa dikatakan musibah, jadi harus bagaimana lagi.Yang penting saya dan penjual sama-sama saling percaya. Untuk kesepakatan hasil musyawarah ini kebetulan sudah ada keberesan.Dan kamipun masih keluarga,juga merupakan petani binaan dari penjual tersebut,” ujar salah satu petani yang terdampak.

Dengan adanya klarifikasi dan kesepakatan musyawarah terkait persoalan dugaan obat padi yang sempat ramai di pemberitaan ini dinyatakan selesai secara kekeluargaan dengan damai.

Tak hanya itu pihak Balai Penyuluhan Pertanian)BPP menegaskan bahwa kegiatan sosialisasi,pemberian arahan,serta pengawasan selama ini terus berjalan secara rutin dan langsung menyentuh tingkat desa.

Menurut perwakilan BPP Kecamatan Angsana,pola pendekatan sosialisasi dilakukan secara fleksibel menyesuaikan kondisi wilayah masing-masing demi efektivitas penyampaian informasi.

“Bukan tidak ada sosialisasi.Kami tetap melaksanakan itu.DiKampung Cisudang Desa Angsana kami biasa berkumpul langsung dengan warga petani. Sementara untuk di Desa Kramatmanik, sosialisasi biasanya kami pusatkan di Forum Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).Semua ini dilakukan untuk memberikan arahan sekaligus fungsi pengawasan,” ujarnya.

 

Pernyataan dari pihak BPP tersebut turut diamini oleh para pelaku tani di lapangan.Salah satu petani asal Desa Kramatmanik membenarkan bahwa pihak BPP tidak tinggal diam. Ia mengaku mendapatkan pendampingan dan pengawasan yang cukup intensif sejak awal musim tanam hingga masa panen tiba.

“Memang benar ada sosialisasi dan pengawasan dari awal mulai penanaman hingga panen,” aku petani tersebut saat dimintai keterangan.

Meski sosialisasi dan pengawasan dari BPP sudah berjalan,tantangan nyata di lapangan justru sering kali membentur kondisi finansial para petani.Di tengah situasi sulit atau musibah pertanian yang sedang terjadi,faktor ekonomi kerap memaksa petani mengambil keputusan nekat demi menyelamatkan lahan mereka.

Salah satu petani mengungkapkan dilemanya yang terpaksa mencari alternatif obat pertanian dengan harga murah demi menekan biaya produksi, meskipun ada risiko yang harus dihadapi.

“Sehubungan dengan adanya faktor ekonomi, saya ingin membeli obat yang murah tapi tetap ada hasilnya.Apalagi sehubungan dengan ini lagi ada musibah, ya sudah mau bagaimana lagi,” Tutup salah satu petani.

Juhadi Geembhol

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan