Bojonegoro – Berbagai kuliner, Camilan dan Aneka Minuman Tradisional Produk Lokal Dijajakan. Hal itu Membuat Animo Masyarakat Desa Maupun Luar Desa Penuh Sesak Antri di Stand-stand UMKM.
Pantauan di Lokasi Pameran Kearifan Lokal yang Diselenggarakan di Lapangan Desa Nglumber Kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro Provinsi Jawa Timur itu Dibanjiri Pengunjung. Rabu (17/7/2024) petang.
“Dihari kedua pengunjung makin membludak, Alhamdulillah jualan jamu kunyit asem laris dan hampir seluruh stand UMKM laku jualannya,” ungkap Bu Aris, penjual jamu tradisional asal desa Bumirejo saat diwawancarai awak media (17/7) petang.
Senada, Reni asal Desa Mojosari dengan menjajakan sayur urap daun pepaya andalannya mengungkapkan, sayur/urap pepaya miliknya laris terjual.
“Urapan khas pepaya laris terjual,” ungkapnya.
Sementara, Rodhiyah pengunjung asal kecamatan Baureno mengaku senang karena di pameran kearifan lokal ini ada berbagai macam produk lokal yang dijajakan.
“Disini ada berbagai camilan, dan saya suka urap pepaya dan juga jamu kunyit asem, khas sekali rasanya,” akunya.
Tak hanya itu, para pedagang pentol, pedagang sate dan pedagang mainan di luar area pameran juga ikut merasakan berkahnya, apalagi di malam kedua akan ada gebyar sholawat bertajuk “Nglumber Bersholawat”. Hal ini akan menarik simpati masyarakat pecinta sholawat menghadiri Pameran Kearifan Lokal di lapangan desa Nglumber.
“Semoga malam ini berkah bagi kita semua,” ujar Said penjual pentol asal desa Cengkir kecamatan Kepohbaru.
Pameran kearifan lokal yang diberdayakan oleh Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro (Disdagkop-UM) Pemerintah Kabupaten Bojonegoro ini benar-benar mampu membangkitkan UMKM.
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro, Sukaemi menyampaikan, tujuan digelar Pameran Kearifan Lokal ini untuk memberdayakan UMKM agar naik kelas.
“Kita berdayakan UMKM agar naik kelas dengan cara memunculkan dan menggali potensi yang ada di kecamatan Kepohbaru ini,” ucap Sukaemi saat menyampaikan laporan dalam pembukaan Pameran Kearifan Lokal di lapangan desa Nglumber ada Selasa (16/7) kemarin.
Selain itu, Sukaemi menegaskan, UMKM di Bojonegoro semakin bertambah. Hal ini menjadi kewajiban Pemerintah Kabupaten untuk memfasilitasi dan memberdayakan.
“Jika tidak kita lakukan, akan timbul permasalahan, kita fasilitasi, kita lakukan pendampingan agar para pelaku usaha me-‘menej’ dan menerapkan usaha dengan baik, misalnya kita tahu ‘packinging’ yang masih alakadarnya. Jadi, kalau kita tidak turun langsung, kita tidak akan tahu kekurangan UMKM kita, sudah mempunyai nomor induk usaha, Sertifikat Halal atau sudah mempunyai sertifikat merk atau belum,” tutupnya. (*)















