MMCNEWS.ID | Ketahanan pangan ternyata tak melulu soal beras dan isi lumbung. Di tengah potensi pangan yang melimpah di desa, ada peluang ekonomi yang bisa digarap jika bahan lokal diolah menjadi produk bernilai jual. Peluang inilah yang coba didorong Pemerintah Kabupaten Jombang.
Sebanyak 30 istri petani tembakau di Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, mendapat pembinaan pengembangan industri pangan lokal. Mereka tidak hanya dicekoki teori, tetapi langsung diajak praktik mengolah bahan pangan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar menjadi produk yang lebih menarik dan punya nilai tambah.
Kegiatan bertajuk “Penguatan Ketahanan Pangan melalui Pemanfaatan Potensi Berbasis Kearifan Lokal” tersebut digelar Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Jombang di Balai Desa Bawangan, Kecamatan Ploso, Rabu (23/9/2026).
Harapannya sederhana, dari bahan pangan yang selama ini dekat dengan dapur, bisa lahir peluang usaha yang ikut menambah pemasukan keluarga.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Jombang, Drs. Bambang Sriyadi, M.Si melalui Kabid Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Esti Rahaju mengatakan, kegiatan tersebut merupakan upaya mendorong masyarakat agar mampu melihat potensi pangan lokal sebagai peluang ekonomi.
“Tujuannya memberikan pembinaan dan pelatihan kepada masyarakat agar potensi pangan yang ada di wilayahnya bisa dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi produk yang mempunyai nilai tambah,” ujar Esti.
Dalam kegiatan tersebut, peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Mereka kemudian praktik mengolah sejumlah bahan pangan lokal seperti ubi, singkong, dan labu kuning menjadi berbagai produk pangan yang lebih menarik dan memiliki peluang untuk dipasarkan.
Namun, pelatihan tidak berhenti pada urusan mengolah bahan makanan. Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai keamanan pangan dan aspek penting sebelum produk dipasarkan secara lebih luas.
Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang turut hadir sebagai narasumber dengan memberikan materi mengenai cara produksi pangan yang baik dan aman untuk industri rumah tangga, tata cara pelabelan kemasan, hingga pentingnya memiliki izin PIRT.
“Selain keterampilan mengolah pangan lokal, ada juga materi terkait PIRT, label kemasan serta cara produksi pangan yang baik dan aman untuk industri skala rumah tangga, sehingga produk yang dihasilkan layak dan aman untuk dikonsumsi masyarakat,” jelasnya.
Esti berharap pelatihan tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan sehari di balai desa. Lebih jauh, keterampilan yang diperoleh peserta diharapkan benar-benar dipraktikkan dan dikembangkan menjadi usaha rumahan.
“Harapannya, dengan adanya pelatihan ini keterampilan peserta semakin bertambah dan bisa menambah penghasilan keluarga. Mereka bisa menghasilkan produk dari bahan pangan lokal yang kemudian dikembangkan menjadi usaha,” pungkasnya.
Program ini sekaligus menunjukkan bahwa potensi ekonomi desa tidak selalu harus datang dari sektor besar. Bahan sederhana yang tumbuh dan tersedia di sekitar masyarakat pun bisa menjadi peluang usaha ketika diolah dengan kreativitas, memperhatikan keamanan pangan, dan dikemas secara menarik.
Dari singkong, ubi hingga labu kuning, dapur rumah tangga pun berpeluang naik kelas menjadi sumber penghasilan baru bagi keluarga petani di Jombang.
Reporter: Adi














