Hadir di Panen Raya Jombang, Ganjar Pranowo Dorong Padi GP 65 Bogor untuk Ketahanan Pangan Nasional

  • Bagikan
Foto: Ganjar Pranowo, Ketua DPP PDI Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah. (ist.dok mmcnews.id)

MMCNEWS.ID | Anggota Komisi IV DPR RI, Sadarestuwati menggelar panen raya padi GP 65 Bogor atau MSP 65 di Dusun Kedungpring, Desa Bareng, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Pada Kamis (17/9/2026) pagi.

Selain dihadiri pimpinan Ketua DPP PDI Bidang Pertanian dan Pangan Hj. Sadarestuwati, turut hadir pula Ganjar Pranowo, Ketua DPP PDI Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah, Ir. Tri Rismaharini, Ketua DPP PDI Bidang Penanggulangan Bencana, serta Dra. Sri Rahayu, Wasekjen Bidang Kerakyatan.

Tak hanya jajaran DPP PDI, sinergi lintas daerah juga terlihat dari hadirnya para kepala daerah dan wakil kepala daerah tetangga, seperti Bupati Nganjuk, Wali Kota Surabaya, Bupati Ngawi, hingga Wakil Wali Kota Mojokerto. Turut hadir pula para pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Timur, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Kelompok Tani Hutan (KTH), kepala desa se-Kecamatan Bareng, serta ratusan petani lokal.

Sadarestuwati menjelaskan proses budidaya padi GP 65 Bogor yang dilakukan di lahan demplot tersebut. Menurutnya, pengolahan lahan dilakukan secara bertahap, mulai dari membalik tanah, penyemprotan biodekomposer, pengomposan hingga pengolahan menggunakan rotary.

“Setelah panen, saya brojol dulu, kemudian disemprot dengan Biodekom yang kita hasilkan sendiri. Setelah itu sudah menjadi kompos, kemudian disemprot dengan herbisida, baru kemudian di-rotary,” kata Sadarestuwati yang akrab disapa Mbak Estu

Ia mengatakan metode tersebut menjadi salah satu upaya untuk menekan pertumbuhan gulma. Menurutnya, hasil pertumbuhan tanaman padi GP 65 Bogor di lahan tersebut menunjukkan kondisi yang cukup baik.

Mbak Estu juga menyebut padi tersebut ditanam lebih akhir dibandingkan beberapa varietas lain seperti Inpari 32, Inpari 49 dan Inpari 42. Namun, berdasarkan hasil demplot yang dipanennya, GP 65 Bogor justru lebih dahulu memasuki masa panen.

“Ini paling akhir, dan alhamdulillah ternyata panennya paling awal,” ujarnya.

Ia menjelaskan, GP 65 Bogor atau MSP 65 juga diuji dengan sistem pengairan yang lebih hemat menggunakan pipanisasi.

Menurutnya, karakter tersebut menjadi salah satu keunggulan yang ingin dikembangkan, terutama untuk menghadapi kondisi musim kemarau.

“Ini cocok untuk ketika menanam pada musim kemarau. Bukan berarti pada musim penghujan enggak bagus, lebih bagus lagi. Akan tetapi di kemarau dia tahan dan alhamdulillah hasilnya sangat bagus,” katanya.

Ia juga mengatakan benih yang digunakan dalam demplot tersebut masih dalam tahap pengembangan. Karena itu, pengembangan benih akan dilakukan secara bertahap hingga dapat menghasilkan benih pokok dan benih sebar yang nantinya bisa dimanfaatkan petani secara lebih luas.

“Nanti bila para petani menginginkan untuk mencoba, nanti kita ada kerja sama dengan para petani. Karena benih ini masih benih BD yang harus kami kembangkan untuk menjadi benih lagi, benih pokok, kemudian benih sebar yang nanti bisa dinikmati oleh seluruh petani di Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Ganjar Pranowo mengatakan penanaman GP 65 Bogor di Jombang merupakan salah satu lokasi uji coba yang perlu terus diamati.

Menurut Ganjar, produktivitas pada demplot tersebut disebut dapat mencapai rata-rata sekitar 10 ton per hektare. Namun, ia menekankan bahwa angka tersebut masih merupakan hasil uji coba sehingga perlu dibuktikan melalui beberapa kali musim panen.

“Ini adalah sebuah ikhtiar masyarakat yang harus kita hormati, hargai, dan didampingi. Harapannya, produktivitas pertanian padi kita bisa meningkat jika dikerjakan bersama-sama,” ujar Ganjar.

Diketahui, Padi varietas GP65 Bogor merupakan singkatan dari Gancang Panen 65 merupakan benih unggul lokal yang resmi dilepas melalui SK Menteri Pertanian RI pada 4 Mei 2026. Padi ini memiliki keunggulan masa panen yang tergolong amat singkat, yakni hanya 65 hari, serta adaptif terhadap perubahan iklim di lahan sawah dataran rendah hingga ketinggian 500 MDPL.

Ganjar Pranowo, mengatakan guna mengantisipasi krisis pangan dan bencana alam, terdapat beberapa poin rekomendasi aksi yang ditekankan, diantaranya Peningkatan Produktivitas dengan cara meningkatkan rata-rata hasil panen nasional dari 5,2–5,6 ton per hektar menjadi target realistis 7 ton per hektar melalui pemeliharaan hara, disiplin kadar pH tanah, dan pemupukan terukur, kemudian mendorong diversifikasi pangan berbasis pemanfaatan lahan dengan menanam sukun, singkong, jagung, serta umbi-umbian lainnya untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga.

Selain itu Standarisasi Demonstration Plot yakni pengujian ketahanan varietas GP65 secara konsisten di beberapa wilayah uji coba seperti Jombang, Banyumas, Pemalang, dan Lamongan yang dilengkapi logbook pencatatan teknis serta panduan video edukasi visual bagi petani, serta Edukasi Kebencanaan dan Kesiapsiagaan dengan cara mendorong pemetaan wilayah rawan bencana dan penyuluhan konstruksi ramah bencana yang disosialisasikan secara massal melibatkan tokoh masyarakat dan perangkat desa.

Melalui uji coba berkelanjutan di Jombang, penangkaran benih dan pola tanam yang disiplin diharapkan dapat dibagikan dan direplikasi oleh para petani di berbagai daerah lainnya demi mewujudkan swasembada pangan yang tangguh”, tutup Ganjar Pranowo.

Kemudian rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan acara workshop yang bertajuk “Kedaulatan Pangan dan Narasi Pembebasan Rakyat Marhaen” yang bertempat di Balai Tani.

Reporter: Adi

  • Bagikan