MMCNEWS.ID | Aroma asap knalpot dan bising mesin motor seolah tak lagi mengganggu bagi puluhan pedagang lesehan di Pasar Pon Jombang.
Alih-alih menempati bangunan megah dan kios permanen yang telah disediakan pemerintah, mereka justru memilih “setia” pada panasnya aspal di area parkir.
Fenomena ini menciptakan pemandangan kontras yang mencolok, deretan bedak baru di bagian belakang pasar tampak sunyi dan kosong, sementara area parkir justru berdenyut kencang dengan transaksi jual-beli.
Bagi para pedagang, urusan perut jauh lebih mendesak dari pada kenyamanan bangunan baru. Area parkir dianggap sebagai “jalur sutra”—titik strategis di mana setiap pengunjung yang baru turun dari kendaraan langsung berhadapan dengan barang dagangan.
“Kalau pindah ke belakang, takutnya tidak laku. Tempatnya jauh dan jarang orang mau ke sana. Di sini, orang baru turun motor saja sudah langsung lihat dagangan kami,” ungkap S, salah satu pedagang lesehan, Rabu (28/1/2026).

Mengapa kios baru dijauhi? Setidaknya ada tiga alasan utama yang membuat pedagang enggan berpindah. Aksesibilitas, Lokasi kios baru dinilai terlalu masuk ke dalam dan jauh dari arus utama pengunjung.
Pengunjung cenderung mencari yang praktis. Belanja di area parkir dianggap lebih cepat dari pada harus berjalan ke blok belakang.
Keberlangsungan Usaha, ketakutan akan kehilangan pelanggan tetap menjadi momok yang lebih besar dari pada risiko penertiban petugas.
Tantangan Penataan Ruang, kondisi ini memotret dilema klasik dalam revitalisasi pasar tradisional. Niat baik pemerintah untuk menciptakan ketertiban dan kenyamanan sering kali berbenturan dengan realitas ekonomi di lapangan.
Bagi pedagang kecil, desain pasar bukan sekadar soal estetika, melainkan soal bagaimana arus pembeli (traffic) bisa mengalir ke lapak mereka.
Hingga saat ini, aspal parkiran tetap menjadi pilihan utama demi menyambung hidup, meski harus bersaing dengan ruang gerak kendaraan.
Reporter: Adi















