MMCNEWS.ID | Aroma kuah kecambah dan hiruk-pikuk pembeli di depan GOR Jombang, Jalan Gus Dur, adalah saksi bisu perjuangan sepasang suami istri, Moh Supren (49) alias Frengky Lento, dan Mujiati (47).
Siapa sangka, dari kepulan asap gerobak lontong balap sederhana milik mereka, lahir dua srikandi berprestasi yang berhasil menaklukkan kerasnya pendidikan di Negeri Tirai Bambu.
Anak kedua mereka, Jenar Maesa Ayu (21), saat ini sedang menempuh kuliah di Kota Chongqing, China. Jejak ini mengikuti sang kakak kandung yang lebih dulu lulus dari universitas di China, juga melalui jalur beasiswa penuh.
Bagi Jenar, kuliah di luar negeri bukanlah mimpi yang datang tiba-tiba. Sejak duduk di bangku sekolah, gadis lulusan SMPN 1 Peterongan dan SMA Negeri Jogoroto ini memang dikenal gila belajar bahasa asing.
“Dari kecil saya memang suka belajar bahasa. Bahasa Inggris, Prancis, Korea, saya sudah sedikit bisa,” ungkap Jenar saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, Kamis (28/5/2026).

Ketertarikannya pada China memuncak saat ia duduk di kelas 3 SMA. Kala itu, sang kakak sedang bersiap melangsungkan kelulusannya di China. Melihat kesuksesan kakaknya, tekad Jenar bulat, ia harus menyusul ke China.
Mimpi itu pun menjadi kenyataan. Lewat jalur prestasi, Jenar berhasil menyabet beasiswa penuh dari pemerintah China.
“Alhamdulillah dapat beasiswa dari pemerintah China, jadi uang kuliah gratis semua,” ujarnya bersyukur.
Sudah hampir satu tahun Jenar menetap di Chongqing, sebuah kota megapolitan yang sibuk di China. Ia mengambil jurusan Bisnis Mandarin, sebuah program studi strategis yang membedah langsung taktik dan strategi bisnis China dengan pengantar bahasa Mandarin penuh.
Jenar melihat peluang ini sebagai investasi masa depan yang sangat menjanjikan.
“Di Indonesia sekarang sudah banyak perusahaan China. Jadi orang yang bisa berbahasa Mandarin pasti punya nilai plus tersendisri,” tuturnya analitis.
Meski biaya kuliahnya gratis, Jenar tidak pernah lupa bahwa setiap suap nasi dan uang saku yang ia terima di China adalah hasil keringat sang ayah yang berpanas-panasan jualan lontong balap di Jombang.

“Setiap hari orang tua saya bekerja keras demi anak-anaknya. Kadang sebulan sekali atau dua kali mereka mengirim uang saku untuk saya. Saya sangat bangga punya ayah dan ibu seperti mereka,” ucap Jenar haru.
Kuliah di luar negeri dimanfaatkan Jenar untuk mengenalkan budaya Indonesia. Di kampusnya, ia dikenal aktif mengikuti berbagai kegiatan internasional. Jenar tercatat pernah melakukan presentasi kebudayaan mengenai Festival Iduladha, hingga melenggang di atas catwalk dalam acara fashion show budaya.
Di sela kesibukannya, ia juga mengeksplorasi ikon kota Chongqing, seperti kawasan Jiefangbei, wisata sejarah Shibati, hingga berfoto di jembatan ikonik yang menghubungkan Chongqing dan Chengdu.
Kisah Jenar dan kakaknya adalah tamparan positif bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah tembok penghalang. Dari sudut jalanan Jombang, dua anak penjual lontong balap membuktikan bahwa dengan tekad yang kuat, anak bangsa mampu berdiri sejajar di panggung internasional.
Reporter: Adi















