MMCNEWS.ID | Cuaca ekstrem yang belakangan menghantam sejumlah wilayah Jawa Timur tak sepenuhnya menjadi kabar buruk bagi petani. Di Desa Kepuhrejo, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, kondisi justru berbalik menjadi berkah.
Petani tembakau di desa yang dikenal sebagai salah satu sentra tembakau wilayah utara Brantas itu tengah menikmati hasil panen dengan kualitas yang dinilai cukup bagus. Tak hanya produksinya yang menggembirakan, harga tembakau rajangan tahun ini juga terbilang menjanjikan.
Harga tembakau rajangan kering bahkan menyentuh Rp 42 ribu per kilogram, tergantung kualitas. Kondisi tersebut menjadi angin segar bagi petani setelah sebelumnya harus berhadapan dengan ketidakpastian cuaca.
Kepala Desa Kepuhrejo, Asiami, mengatakan kualitas tanaman tembakau tahun ini relatif lebih baik dibandingkan musim sebelumnya.
“Tanaman tembakau redemanya bagus dibandingkan dengan tahun lalu. Dalam satu kwintalnya bisa keluar 18-20 kilogram kalau di ranjang dan harganya juga bagus tahun ini,” terang Asiami kepada mmcnews.id, Rabu (9/9/2026).
Bagi petani, kualitas tanaman tentu belum lengkap tanpa harga jual yang menguntungkan. Tahun ini, harga tembakau di Kepuhrejo disebut cukup stabil dan cenderung bagus.
Untuk tembakau rajangan kering, harga berada di kisaran Rp 37 ribu hingga Rp 42 ribu per kilogram, menyesuaikan kualitas. Sementara tembakau kualitas non-gula bahkan bisa mencapai Rp 50 ribu per kilogram.
Harga tersebut menjadi kabar menggembirakan bagi petani. Pasalnya, biaya produksi tembakau tidak sedikit, mulai dari pengolahan lahan, bibit, pupuk, perawatan, hingga proses panen dan perajangan.
Tak hanya tembakau kering, harga daun basah juga masih cukup menarik. Untuk jenis tembakau rejeb, harga daun basah berada di kisaran Rp7 ribu per kilogram.
Namun, mayoritas petani Kepuhrejo memilih tidak buru-buru menjual daun basah. Mereka mengolah sendiri hasil panen dengan cara dirajang agar mendapatkan nilai jual yang lebih tinggi.
“Mayoritas di sini petani memproses sendiri, dirajang. Di Desa Kepuhrejo sudah 80 persen sudah dipanen. Alhamdulillah tahun ini harganya bagus dibandingkan tahun kemarin,” ujar Asiami.
Hingga awal September 2026, proses panen tembakau di Desa Kepuhrejo telah mencapai sekitar 80 persen.
Angka tersebut menunjukkan aktivitas petani masih cukup tinggi di tengah musim panen. Hasil panen yang kemudian diproses menjadi tembakau rajangan menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat desa.
Kepuhrejo sendiri bukan pemain baru dalam komoditas tembakau. Desa tersebut telah lama dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil tembakau di wilayah utara Brantas.
Bahkan, Pemerintah Kabupaten Jombang menetapkan Kepuhrejo sebagai salah satu Desa Tematik Tembakau tahun 2025. Penetapan itu menjadi pengakuan terhadap potensi tembakau yang selama ini menjadi salah satu komoditas unggulan masyarakat.
Dengan luas lahan tanam yang mencapai puluhan hektare dan mayoritas warga menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian, tembakau memiliki peran penting dalam roda perekonomian Desa Kepuhrejo.
Musim tanam tembakau tahun ini memang tidak sepenuhnya berjalan mulus. Cuaca yang sulit diprediksi menjadi tantangan tersendiri bagi petani.
Namun, hasil yang diperoleh di Kepuhrejo justru menunjukkan cerita berbeda. Tanaman mampu tumbuh dengan kualitas yang dinilai lebih baik, sementara harga jual berada di level yang cukup menguntungkan.
Kini, harapan petani sederhana: harga tetap bertahan dan kualitas hasil panen tetap terjaga.
Sebab bagi mereka, ketika hasil bagus bertemu harga bagus, musim tembakau bukan sekadar masa panen. Ia adalah momentum untuk mengembalikan modal, memenuhi kebutuhan keluarga, sekaligus menjaga roda ekonomi desa tetap berputar.
Jika kondisi tersebut terus bertahan, bukan tidak mungkin tembakau Kepuhrejo kembali menjadi salah satu komoditas pertanian yang mampu memberi “napas panjang” bagi perekonomian masyarakat Jombang.
Reporter: Adi















