Ket foto; para pemenang lomba saat sesi foto bersama Taufik (kostum merah) panitia.
Sampang – MMCMadura – Sebelumnya terbit dimedia ini yang berjudul ” Rosi Kalahkan Petenis Meja Yang Pernah Berlaga Ditingkat Porprov” Sutarji keberatan serta ingin meluruskan dan menilai panitia kurang fair /adil.
Sutarji saat menghubungi awak media mengatakan, Risky dan Rosi bisa dikatakan pemain kelas yang sama bahkan Rosi lebih tinggi umurnya yang menurut dia Rosi merupakan pemain yang pernah berlaga di porprove juga.
“Rosi itu pemain porprove juga bahkan pernah juara satu dibangkalan pak, kenapa kelasnya kok diataskan risky meskipun menang itu Pours dua pak bukan Leg, saya keberatan atas nama orang tua Rosi , Rosi pemain porprove juga umurnya 3 tahun diatas Rosi dia sudah kuliah pak. Anak saya SMA kelas Dua.” Kata Sutarji yang mengaku kerja di dinas pendidikan kabupaten Pamekasan.
Dikatakan Sutarji, Tidak adilnya panitia terjadi dipertengahan saat laga berjalan yang menurut dia kelasnya Riski sebelumnya A dinaikkan menjadi kelas A Plus.
“Pertengahan jalan berubah yang saat masuk enam besar awalnya kelas nya A dinaikkan A plus. Waktu technical meeting sama, Rosi itu pemain Porprov menangnya di pours dua yang baca istilahnya tidak pembunuhan karakter terhadap anak saya” Kata Sutarji mengakhiri telfon.
Ditambahkannya Sutarji melalui tulisannya di aplikasi whatsap meyakinkan awak media tentang rekord kemengan rosi dalam perjalanan di tenis meja
“Rosi : juara 1 turnamen dibangkalan th 2022 , Pemain porporv tahun 2023 di bondowoso, kuliah skr semester 3 kelahiran 2005, Risky, pemain porpov 2024 di Jombang, Skr duduk di SMA 3 kelas X1 kelahiran 2007, Kok bisa beda kelas rosi (A.) Riski (A+) tapi itu sudah keputusan panitia” tulisnya Sutarji.
Menanggapi hal itu Taufik selaku Panitia Lomba menjelaskan data yang diambil pihaknya menetapkan kelas pada pemain dari temen setimnya saat mendaftar serta sudah dilakukan technical meeting.
“risky yang mendaftar awalnya sudah dikelas A plus, dipertengahan jalan dikomplain dan terdata di A plus. Risky dipanggil dan ditunjukkan datanya A plus. Dari itu awalnya kesalahan itu risky yang ada dikelas A penulisan panitia memang salah, atas dasar itu makanya risky dipanggil dan disepakati kalau risky merupakan kelas A plus dan risky sendiri mengiyakan.” Kata Taufik saat dimita keterangan Dikediamannya pada Senin (05/08/24) malam, sekira pukul 20:00 WIB.
Disinggung terkait tidak adil dalam melaksanakan kegiatan itu Taufik meminta maaf serta mengajak seluruh pecinta tenis meja untuk bijak bersikap dan menilai disaat permasalah muncul. Kegiatan itu diadakan untuk ajang silaturrahim serta berharap menjunjung tinggi suportifitas.
” Atas nama panitia Saya minta maaf kepada seluruh pecinta tenis meja. Saya juga berharap saat technical meeting hadir dan saat mendaftar diharap kejujurannya, suportif memberikan informasi. Mari kita jadikan tenis meja sebagai ajang silaturrahim. Salam shettonh dhara, Salam Satha Rethanan.” Ungkap Taufik mengakhiri.
(Man)














