MMCNEWS.ID | Di balik suara mesin penggilingan, Pabrik Gula (PG) Tjoekir ternyata menyimpan sisi magis yang kental. Bukan sekadar rutinitas industri, setiap musim “Buka Giling” tiba, pabrik ini berubah menjadi pusat ritual budaya yang kental dengan nuansa religius dan mistis.
Salah satu tradisi yang tak pernah absen adalah kesenian Tayub. Menurut Abdul Aziz, pimpinan PG Tjoekir, Tayub bukan hanya hiburan semata, melainkan bagian dari uri-uri budaya Jawa yang memiliki makna mendalam.
“Tayub adalah upaya menyelaraskan antara alam fisik dengan alam rohani,” ujar Abdul Aziz, ketika di wawancarai mmcnews.id, Selasa (28/04/2026).
Ia menambahkan bahwa filosofi yang terkandung di dalamnya sangat religius, bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan memohon perlindungan dari Sang Pencipta.
Selain Tayub, rangkaian ritual mistis lainnya meliputi selamatan petik tebu yang dilakukan di perkebunan sebagai simbol rasa syukur atas kerja keras petani selama setahun.
Ritual ini disertai doa bersama agar seluruh elemen, mulai dari masyarakat, petani, hingga pabrik, diberikan keselamatan.
Tak hanya itu, wayang ruwat dan wayang kulit juga digelar sebagai bentuk pembersihan diri dan lingkungan dari energi negatif atau nasib buruk sebelum proses produksi besar dimulai.
Meski Abdul Aziz mengaku belum pernah mengalami kejadian ganjil secara langsung selama memimpin, ia tidak menampik adanya aroma mistis yang dirasakan oleh para karyawannya.
“Kalau saya pribadi belum pernah, tapi banyak karyawan yang bercerita tentang kejadian di luar nalar. Hal-hal gaib itu kadang menemani keseharian kami di sini, dan itu hal yang biasa,” ungkapnya.
Pihak manajemen percaya bahwa menjaga tradisi leluhur ini berkorelasi positif terhadap kelancaran operasional pabrik. Meskipun secara ilmiah sulit dibuktikan, penghormatan terhadap penghuni dan kekuatan alam melalui ritual doa tetap dijunjung tinggi demi keselamatan bersama.
Bagi PG Tjoekir, gula yang dihasilkan bukan sekadar hasil olahan tebu, melainkan hasil dari kerja keras manusia, pelestarian budaya, dan penghormatan terhadap dunia yang tak kasat mata.
Reporter: Adi















