Meski Tunanetra, Suparkan Tetap Produktif Bermusik dan Menjadi Tukang Pijat serta Dipercaya Sebagai muazin di Masjid Baitul Mukminin

  • Bagikan
Oplus_131072

MMCNEWS.ID | Di usia yang telah menginjak (67) tahun, Suparkan, warga Dusun Gambiran Utara, RW 01 RT 03, Desa Gambiran, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, tetap menunjukkan semangat hidup yang tinggi. Meski mengalami kebutaan total, ia dikenal sebagai sosok yang pandai bermusik dan memiliki suara yang merdu.

Saat ditemui di kediamannya, Suparkan menceritakan perjalanan hidupnya. Ketertarikannya pada dunia musik sudah tumbuh sejak masa mudanya. Ia pernah tinggal di Surabaya dan aktif bermusik bersama teman-temannya.

 

 

“Awalnya saya memang hobi musik. Saat di Surabaya, saya belajar musik, lalu membentuk grup dan mulai tampil dari panggung ke panggung. Saya juga pernah ikut band dan orkes melayu, waktu itu saya jadi pemain bass,” katanya saat ditemui wartawan di kediamannya pada Rabu (4/6/2025) malam.

Bagi Suparkan, musik bukan sekadar hobi, tapi juga menjadi cara untuk tetap menikmati hidup di tengah keterbatasan.

“Dengan bermain musik, saya merasa terhibur. Itu cara saya untuk refreshing dan mengisi waktu,” ujarnya.

 

 

Selain bermusik, Suparkan juga menjalani profesi sebagai tukang pijat. Ia tidak mematok tarif tetap bagi pelanggan yang datang ke rumahnya.

“Mau laki-laki atau perempuan, saya nggak pernah narget. Seikhlasnya saja. Kadang ada yang ngasih Rp.30 ribu, Rp.50 ribu, bahkan pernah Rp.100 ribu. Tapi sekarang lagi sepi, mungkin karena musim hujan juga,” kata dia.

Menurut Suparkan, sepinya pelanggan jasa pijat sudah dirasakan sekitar dua minggu terakhir. Hal ini juga dialami oleh rekan-rekan seprofesinya. Meski begitu, ia tetap bersyukur karena masih ada penghasilan yang bisa diperoleh.

Selain bermusik dan memijat, Suparkan juga aktif di kegiatan keagamaan. Ia dipercaya menjadi muazin di Masjid Baitul Mukminin.

“Kalau saya nggak ada di rumah, pasti saya di masjid,” ucapnya.

Suparkan memiliki tiga orang anak. Penglihatannya mulai memburuk setelah kelahiran anak pertamanya.

“Awalnya kabur, lalu setelah anak kedua lahir makin gelap, dan setelah anak ketiga, saya tidak bisa melihat sama sekali gelap total,” kenangnya.

Meski hidup dalam keterbatasan, Suparkan tetap menjalani hari-harinya dengan semangat. Musik, profesi pijat, dan pengabdiannya di masjid menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk tetap berkarya dan bermanfaat bagi orang lain.

Reporter: Adi

  • Bagikan