MMCNEWS.ID | Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Kabupaten Jombang tengah mengambil langkah tegas untuk menghidupkan kembali perekonomian di pasar-pasar tradisional. Langkah ini diambil karena sepinya pembeli yang memicu penutupan ribuan lapak pedagang secara massal.
Berdasarkan data terakhir, sekitar 1.000 lapak berbagai pasar di Jombang kini dalam kondisi ditutup. Menanggapi situasi ini, Disdagrin Jombang berkomitmen untuk melakukan penataan ulang demi menyelamatkan Aset Daerah.
Kepala Disdagrin Jombang, Anjik Eko Saputro, S.H., M.Si, mengatakan, salah satu fokus utama pembenahan ini adalah memutus rantai praktik ilegal jual beli atau sewa menyewa lapak oleh pihak ketiga. Ia menegaskan bahwa lapak pasar adalah aset Pemerintah Daerah yang tidak memiliki hak paten kepemilikan pribadi.
“Kami akan menyelamatkan aset tersebut. Jika lapak tidak ditempati oleh pemilik aslinya, maka akan kami tarik kembali ke Pemda. Prosedurnya jelas, kami akan memberikan surat peringatan (SP) 1, 2, dan 3. Jika tetap tidak digunakan untuk berjualan, lapak akan dialihkan kepada pedagang lain yang benar benar membutuhkan,” tegas Anjik, Jumat (5/6/2026).
Bagi pedagang baru yang ingin menggunakan fasilitas pasar, Disdagrin menjamin proses pengajuan lapak kini jauh lebih mudah dan transparan, tanpa biaya sewa ilegal, melainkan hanya dikenakan biaya retribusi resmi harian.
Sepinya pasar tidak lepas dari perubahan perilaku konsumen. Menjamurnya bisnis online dan sistem belanja langsung via media sosial menjadi faktor utama yang memukul omset para pedagang pasar.
Sektor yang paling merasakan dampak penurunan ini adalah pedagang pakaian dan busana (fashion). Banyak dari mereka yang terpaksa gulung tikar karena kalah bersaing dengan tren toko modern, distro, serta kepraktisan belanja online yang menawarkan model lebih kekinian.
Meski sektor fashion meredup, kabar baik masih datang dari sektor kebutuhan pokok. Dari total 16 pasar yang dikelola oleh Pemerintah Daerah Jombang, pedagang sayur, bumbu dapur, daging ayam, dan sembako dinilai masih mampu menguasai pasar dan mempertahankan eksistensinya. Kebutuhan masyarakat yang bersifat harian dan harus selalu segar membuat sektor tradisional ini tetap dicari dan tidak dapat ditunda konsumsinya.
Disdagrin Jombang mengimbau para pedagang pasar untuk tidak menutup mata terhadap teknologi. Mau tidak mau, pedagang diharapkan mulai menggunakan sistem dua jalur atau hybrid yaitu memadukan penjualan tatap muka dan online.
Anjik berharap para pedagang dapat memanfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan pasar, meniru kesuksesan para pelaku usaha modern. Pihaknya juga akan terus berupaya agar pasar di Kabupaten Jombang dapat kembali bangkit menjadi pusat ekonomi masyarakat.
Reporter: Adi















