MMCNEWS.ID | Aroma nepotisme menyeruak dalam proses pengisian perangkat Desa Segodorejo, Kecamatan Sumobito, Jombang. Dua kandidat peraih skor tertinggi dalam tes berbasis komputer (CAT) secara mengejutkan “didepak” oleh penilaian subjektif wawancara. Publik pun bertanya-tanya. Apakah kompetensi kalah oleh restu penguasa desa?
Persaingan yang awalnya terlihat transparan melalui layar monitor CAT seketika berubah drastis saat memasuki babak wawancara. Dua sosok “jawara” ujian tulis, Candra Setio Ferdianto dan Sifauddin Saputro, harus menelan pil pahit setelah nilai mereka dipangkas habis di meja wawancara.
Data Persaingan yang Menjadi Sorotan:
Formasi Jabatan Kandidat Skor CAT (Kompetensi) Skor Wawancara Total Akhir status.
Candra Setio F. Skor CAT mendapat nilai 425, skor wawancara 230, total nilai 655 yang tersingkir.
Sofi Irawati, skor CAT mendapat nilai 385, skor wawancara 275, total nilai 660 Lolos,
Sifauddin S. Skor CAT mendapat nilai 430, skor wawancara 220, total nilai 650 Tersingkir.
Abdul Muzaki, skor CAT mendapat nilai 395, skor wawancara 265, total nilai yang diperoleh 660 lolos.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, poin wawancara sepenuhnya berada di tangan Kepala Desa. Di sinilah letak polemiknya. Candra yang unggul 40 poin di tes CAT, mendadak “dibalap” oleh Sofi dengan selisih nilai wawancara yang mencapai 45 poin.
Sifauddin yang memegang rekor nilai tertinggi (430) juga harus tumbang karena nilai wawancaranya “dibenamkan” di angka 220, sementara rivalnya melenggang dengan nilai 265.
“Diduga di situlah permainan terjadi. Tes CAT yang objektif seolah hanya formalitas, karena penentunya adalah nilai subjektif dari Kades agar calon pilihannya menang,” ungkap seorang sumber kepada tim media.
Meski menuai kritik dan kecurigaan, prosesi pelantikan tetap melaju kencang. Pada Jumat malam (8/5/2026), Sofi Irawati dan Abdul Muzaki resmi dilantik sebagai perangkat desa baru di Balai Desa Segodorejo.
Hingga saat ini, Kepala Desa Segodorejo, Sanip, masih memilih “bungkam”. Upaya konfirmasi terkait transparansi penilaian wawancara yang memicu kegaduhan ini belum membuahkan hasil.
Akankah kasus ini berakhir di meja inspektorat, ataukah nilai CAT tinggi memang tak lagi berharga di tingkat desa? Masyarakat kini menanti keadilan di balik tirai birokrasi Segodorejo.
Reporter: Adi















