BOGOR | MMCNews.id, – Sungguh di luar nalar! Instruksi tegas Kapolsek Dermaga agar jajaran segera bertindak cepat seakan tidak didengar sama sekali. Padahal sang pimpinan sudah memperingatkan keras, “Tindak sekarang, jika tidak barang bukti bisa hilang.”
Namun sayang, perintah tersebut terlihat tidak berbobot. Saat awak media melapor, Unit Reskrim justru terlihat santai dan saling lempar tanggung jawab dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal.
Padahal, jarak antara kantor Polsek Dermaga dengan lokasi pengoplosan gas ilegal hanya berjarak tempuh 5 menit saja. Tapi kenyataannya sangat berbeda. Petugas baru benar-benar bergerak ke lokasi setelah awak media kembali mendatangi Polsek dan menagih janji setelah waktu berlalu lebih dari 3 JAM.
Akibat kelambanan yang sangat mencurigakan ini, saat polisi tiba, kondisi lokasi sudah bersih total. Semua barang bukti, timbangan, dan tabung-tabung gas 12kg sudah lenyap hanya tersisa tabung gas 3kg.
BERANI TAWARI UANG! Pelaku di Rutan Cibinong Minta “Dibantu Damai”
Fakta kian memanas saat terungkap bahwa pelaku usaha bernama Ableh, yang saat ini sudah mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pondok Rajeg Cibinong, nekat menghubungi awak media yang sedang berada di lokasi.
Dengan nada memohon, Ableh mengakui tegas bahwa usaha ilegal itu miliknya.
“Betul itu kegiatan saya yang sedang berjalan, mohon dibantu untuk berdamai saja. Kasihan atuh, sekarang posisi saya di Rutan Pondok Rajeg Cibinong,” ujar Ableh melalui sambungan telepon.
Bukan hanya meminta tolong, pelaku bahkan dengan beraninya menawarkan sejumlah uang kepada rekan-rekan jurnalis agar kasus ini tidak dilanjutkan ke pihak berwenang atau ditutup-tutupi.
Tawaran kotor itu langsung ditolak mentah-mentah oleh tim liputan. Tindakan tersebut jelas sangat bertentangan dengan prinsip kebenaran dan kode etik jurnalistik yang dipegang teguh.
Dugaan “Main Mata” Menguat, Pemilik Rumah Ternyata Mantan Kapolsek!
Yang membuat publik semakin geram, pemilik rumah tempat kegiatan ilegal itu berlangsung mengaku sebagai Purnawirawan Polisi dan bahkan menyebut dirinya Mantan Kapolsek.
Ini semakin memperkuat dugaan kuat adanya “main mata” atau perlindungan khusus. Apakah karena pelakunya sesama “keluarga besar” polisi sehingga aparat yang masih aktif jadi enggan bertindak tegas?
Masyarakat kini bertanya-tanya, benarkah hukum di wilayah ini hanya tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas atau sesama rekan? Instruksi pimpinan boleh saja keras, tapi jika pelaksana di lapangan punya kepentingan lain, percuma!
Laporan: [Iwan]














