Garut,Mmcnews.id – Kerusakan lingkungan yang kian mengkhawatirkan di Kabupaten Garut, Jawa Barat memicu keprihatinan berbagai kalangan. Salah satu yang kini tampil di garda terdepan adalah Rakyat Peduli Garut (RAGAP), sebuah gerakan sosial yang didirikan oleh pegiat lingkungan, aktivis, hingga tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan ekosistem di tanah Garut.
Bersama Perkumpulan Lingkungan Anak Bangsa (LIBAS), RAGAP menginisiasi program besar bertajuk “Garut Hijau Kembali”, yang menyasar kawasan-kawasan kritis, termasuk daerah rawan longsor, bantaran sungai, dan hutan yang telah mengalami degradasi.
Kegiatan penghijauan ini bukan hanya menjadi aksi simbolik, melainkan langkah konkret yang dirancang untuk memberi dampak jangka panjang.
Ketua Koordinator RAGAP, Ganda Permana, S.H., menyampaikan bahwa gerakan ini lahir dari keresahan melihat semakin parahnya kondisi lingkungan yang diabaikan. Ia menyebut bahwa banyak daerah di Garut mengalami penurunan tutupan vegetasi akibat aktivitas manusia yang tidak terkendali, mulai dari penebangan liar, pembangunan tanpa kajian lingkungan, hingga praktik pertanian yang tidak ramah alam.
“Kami memulai langkah ini sebagai wujud tanggung jawab sosial terhadap lingkungan yang makin rusak.
Namun, yang paling penting dari semua ini adalah komitmen kita bersama untuk tidak mengulang kerusakan. Setelah kami hijaukan, kami minta dengan tegas: jangan rusak kembali lingkungan kami,” tegas Ganda dalam pernyataannya kepada awak media.
Ganda juga mengajak semua pihak untuk tidak hanya menjadi penonton dalam gerakan pelestarian ini.
Menurutnya, kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha sangat penting untuk menciptakan keberlanjutan yang nyata.
Senada dengan itu, Ketua Perkumpulan Lingkungan Anak Bangsa, Tedi Sutardi, yang dikenal sebagai aktivis lingkungan yang konsisten dalam menjaga Sub DAS Cimanuk, menambahkan bahwa gerakan ini tidak akan berarti jika masyarakat masih abai. Ia mengingatkan bahwa menghijaukan kembali lahan kritis hanyalah satu tahap dari proses panjang pemulihan ekosistem.
“Kami bisa tanam ribuan pohon, bisa tanam kembali hutan-hutan yang gundul, tapi kalau setelah itu tidak dijaga, maka semua akan sia-sia. Kami ingin gerakan ini menjadi kesadaran kolektif. Setelah kami hijaukan, jangan rusak kembali lingkungan kami. Dengan kolaborasi dan satu hati, mari kita lestarikan alam,” ujar Tedi. Kamis, (01/05/2025).
Ia juga menyampaikan bahwa gerakan ini bukan sekadar menanam pohon, melainkan juga bagian dari edukasi lingkungan. RAGAP bersama Perkumpulan Lingkungan Anak Bangsa telah merancang program lanjutan berupa pelatihan kepada masyarakat sekitar hutan untuk menjaga pohon yang ditanam, mengenalkan pertanian ramah lingkungan, hingga pengawasan partisipatif terhadap wilayah konservasi.
Beberapa titik yang akan menjadi fokus penghijauan di antaranya adalah kawasan hulu Sungai Cimanuk, daerah penyangga lereng Gunung Cikuray, serta area yang selama ini menjadi langganan banjir dan longsor saat musim hujan. Ribuan bibit pohon keras seperti mahoni, puspa, dan damar telah disiapkan untuk ditanam dalam waktu dekat.
RAGAP juga telah menggandeng sejumlah sekolah, kelompok tani, serta organisasi pemuda dalam aksi ini. Melalui gerakan bertajuk “Satu Orang Satu Pohon”, mereka mendorong partisipasi generasi muda agar memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan sejak dini.
Di akhir keterangannya, baik Ganda maupun Tedi berharap, apa yang mereka lakukan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Garut lainnya. Mereka menegaskan bahwa keberhasilan gerakan penghijauan ini tidak bisa hanya ditopang oleh satu dua kelompok saja, tetapi harus menjadi gerakan bersama.
“Kami hanya memulai. Tapi menjaga dan merawatnya, itu tugas kita bersama. Jika hari ini kita tanam, maka esok harus kita jaga. Untuk anak cucu kita, untuk Garut yang lebih hijau, lebih lestari,” tutup Tedi Sutardi. (DK)















