MMCNEWS.ID | Kawasan Terminal dan Pasar Ploso, Jombang, tampak meriah. Pada Sabtu (6/6/2026). Ratusan ASN, personel TNI-Polri, pelajar, hingga perwakilan perusahaan bahu-membahu memungut sampah dalam apel besar memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Melalui sambutan tertulis Bupati Jombang Warsubi yang dibacakan Wakil Bupati M. Salmanudin Yazid, Pemkab Jombang dengan lantang mengajak masyarakat melakukan aksi nyata: kurangi plastik, tanam pohon, dan jaga bumi demi masa depan.
Namun, di sudut lain Jombang, pidato normatif itu terasa hambar. Hanya dua hari sebelum seremonial itu digelar—tepatnya Kamis (4/6/2026)—sebuah kenyataan pahit dibongkar dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi C DPRD Jombang.
Di saat pejabat berseru soal kelestarian alam, sebagian warga Jombang justru harus mengelus dada. Mereka sudah lebih dari satu dekade “dipaksa” hidup berdampingan dengan bau menyengat dari limbah industri tahu.
Limbah cair dari industri tahu di Kecamatan Jogoroto dilaporkan terus mengalir bebas, melewati kawasan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, hingga ke hilir Kecamatan Peterongan.
Warga terdampak menceritakan betapa sedihnya kondisi sekarang dengan masa lalu. Dulu sungai adalah pusat kehidupan. Airnya jernih, tempat anak-anak mandi, bermain, dan mengairi sawah dengan aman.
Namun, sekarang air sungai berubah keruh pekat dan mengeluarkan aroma busuk yang menusuk hidung hingga ke dalam rumah warga.
“Anak-anak sekarang tidak berani lagi mendekat ke sungai. Kami takut dampaknya pada kesehatan,” keluh salah satu warga.
Bukan cuma air permukaan, rembesan limbah ini diduga kuat sudah mulai mencemari sumur-sumur bor milik warga. Lebih ironis lagi bagi para petani di hilir. Saat musim kemarau tiba, mereka tidak punya pilihan selain mengairi sawah menggunakan air sungai yang mayoritas isinya adalah cairan limbah tahu.
Sebenarnya, pemerintah bukan tanpa rencana. Solusi permanen telah dirancang lewat pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal senilai Rp 7,7 miliar.
Proyek megah hasil kolaborasi dengan PGN ini diproyeksikan mampu menampung limbah dari 94 pabrik tahu di tiga desa (Ngumpul, Mayangan, dan Sumbermulyo).
Meskipun peletakan batu pertama sudah dilakukan sejak September 2025 lalu dengan harapan besar. Namun, jalan keluar ini rupanya masih panjang. Hingga Juni 2026, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang mengakui proyek tersebut baru sampai pada tahap pengadaan jaringan pipa.
Sebagai penanganan darurat (dan murah), DLH Jombang berencana melakukan fitoremediasi—yaitu menanam eceng gondok di aliran sungai sebelum masuk ke area Ponpes Darul Ulum untuk menyerap polutan secara alami.
Bagi masyarakat terdampak, Hari Lingkungan Hidup bukanlah soal berapa banyak sampah yang berhasil dipungut dalam kerja bakti dua jam di pasar, atau seberapa estetis pamflet ucapan di media sosial.
Lingkungan hidup adalah tentang air yang mereka konsumsi setiap hari, udara yang mereka hirup setiap detik, dan masa depan anak-anak mereka.
Ketika tenda seremonial di Pasar Ploso dibongkar dan jalanan kembali sepi, Pekerjaan Rumah (PR) besar Pemkab Jombang masih mengalir di sungai Jogoroto.
Warga sekitar tidak butuh pidato, mereka hanya rindu satu hal yang sederhana, yaitu melihat air sungai mereka kembali jernih seperti sediakala dan bebas dari bau limbah.
Reporter: Adi















