Peran Santri Dalam Perang Kemerdekaan 10 November di Surabaya

  • Bagikan

BOJONEGORO | MMCNEWS – Pada momen peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November, saya sebagai ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) tentunya saya merasa bangga menjadi seorang santri. Rangkaian sejarah membuktikan kalau Hari Pahlawan satu paket dengan Hari Santri. Benang merah yang terentang di antara kedua hari besar nasional itu tak lepas dari peran kaum santri/ muslimin dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pertemuan ratusan ulama dari Jawa dan Madura itulah yang melahirkan Resolusi Jihad yang menghasilkan keputusan penting bahwa hukum melawan penjajah NICA adalah fardlu ain (kewajiban individu) dan mati dalam perlawanan adalah syahid,
Resolusi Jihad yang mendasari tekad arek-arek Surabaya melawan ultimatum The Netherlands Indies Civil Administration (NICA).

Pertempuran mempertahankan kemerdekaan Rebulik Indonesia di Surabaya yang melahirkan Hari Pahlawan bisa jadi tidak akan pernah ada jika tidak ada semangat juang dari kalangan santri atau muslim yang didasari oleh Resolusi Jihad 22 Oktober tersebut.

Peran santri dalam membantu merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI dari tangan penjajah tidak dapat dinafikan.
Santri pun harus terus berperan dalam mengisi kemerdekaan yang merupakan anugerah yang besar dari Allah SWT.

Selama ini santri sering dipahami sebatas orang-orang yang berada di sebuah pondok pesantren, kaum sarungan, dan hanya mempelajari kitab kuning saja.

Padahal kalau kita merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘santri’ memiliki cakupan yang luas. Santri dalam KBBI dijelaskan sebagai “orang yang mendalami agama Islam”, “orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh”, bahkan “orang yang saleh”.

Oleh karenanya, yang dapat dikatakan sebagai santri tidak hanya mereka-mereka yang sedang menimba ilmu di pesantren atau universitas Islam, tapi juga mereka-mereka yang berupaya (untuk terus) mempelajari dan mengamalkan agama Islam secara sungguh-sungguh.
Ini berarti begitu banyak orang yang dapat dikategorikan sebagai santri walaupun mungkin mereka sendiri tidak menyadarinya.

Sebagai seorang pendidik, saya berusaha mendorong anak didik/ santri untuk bisa mengisinya dengan terus menggali ilmu pengetahuan. Karena kemerdekaan akan menemukan keabadiannya jika ia diisi dengan ilmu pengetahuan. Ilmu lebih berharga dari pada harta kekayaan atau sumber daya alam (SDA). Sebagaimana kata Imam Ali bin Abi Thalib, “Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Kalau harta itu akan berkurang apabila dibelanjakan, tetapi ilmu akan bertambah apabila dibelanjakan.”

Santri harus berperan dalam menghadapi paham-paham yang mengganggu eksistensi dan ideologi negara, santri juga diharapkan tampil memajukan Indonesia dengan meningkatkan perannya di berbagai sektor.Hal ini mempertegas bahwa cinta terhadap tanah air adalah sebuah kewajiban yang tertanam di kalangan kaum santri.

Penulis : Usman S.pd
– Kepala sekolah SMA Ahmad Yani 2 Burno
– Ketua MWCNU Kecamatan Sumberrejo
– Ketua Dewan Masjid Indonesia Kecamatan  Sumberrejo.
– Seketaris 2 DPC PKB Kabupaten Bojonegoro.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan