MMCNEWS.ID | Belum genap sebulan rampung dikerjakan, kondisi jalan paving di Dusun Genjong Kidul, Desa Sidowarek, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, sudah menuai sorotan. Susunan paving yang tampak renggang, berongga, hingga sejumlah material yang retak dan pecah memunculkan pertanyaan serius tentang kualitas pekerjaan infrastruktur yang dibiayai menggunakan uang negara.
Pantauan di lokasi pada Senin (12/10/2026) menunjukkan kondisi paving yang tidak tersusun secara presisi. Sejumlah bagian jalan terlihat mengalami kerusakan, meski pekerjaan fisiknya disebut baru selesai beberapa waktu lalu. Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat terhadap ketahanan jalan yang seharusnya dapat menunjang aktivitas warga dalam jangka panjang.

Sorotan semakin menguat setelah diketahui terdapat dua paket pekerjaan jalan paving di lokasi tersebut dengan total anggaran sekitar Rp199,46 juta. Kedua proyek yang bersumber dari Dana Desa (DD) dan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Tahun Anggaran 2026 itu kini menjadi perhatian, terutama terkait kualitas material, metode pemasangan, serta pengawasan selama proses pengerjaan.
Berdasarkan informasi pada papan prasasti proyek yang terpasang di lokasi, terdapat dua pekerjaan infrastruktur jalan paving yang dilaksanakan oleh Tim Pengelola Kegiatan (TPK) Desa Sidowarek.
Paket pertama merupakan proyek rehabilitasi jalan paving yang bersumber dari Dana Desa Tahun Anggaran 2026. Pekerjaan tersebut memiliki volume 75 meter x 3 meter dengan nilai anggaran sebesar Rp44.459.650.

Sementara itu, paket kedua berupa pembangunan jalan paving yang didanai melalui BKK Tahun Anggaran 2026. Pekerjaan ini memiliki volume 304 meter x 2,5 meter dengan nilai anggaran mencapai Rp155 juta.
Jika digabungkan, kedua paket tersebut memiliki nilai anggaran sebesar Rp199.459.650 atau hampir Rp200 juta.

Besarnya anggaran yang dikucurkan tentu menimbulkan ekspektasi masyarakat terhadap hasil pekerjaan yang berkualitas, rapi, dan mampu bertahan sesuai peruntukannya. Namun, kondisi paving yang terlihat mengalami kerusakan justru memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaian hasil pekerjaan dengan spesifikasi teknis yang ditetapkan.
Persoalannya bukan semata-mata soal tampilan jalan yang kurang rapi. Ketika infrastruktur yang baru dibangun sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan, evaluasi terhadap kualitas pekerjaan menjadi hal yang patut dilakukan.
Kualitas Material dan Teknik Pemasangan Perlu Diuji
Kerusakan berupa paving yang renggang, retak, dan pecah memunculkan dugaan adanya persoalan dalam proses pengerjaan. Namun, untuk memastikan penyebabnya, diperlukan pemeriksaan teknis terhadap material, ketebalan paving, kondisi lapisan dasar, kepadatan pasir alas, serta metode pemasangan yang digunakan.

Di lapangan, muncul dugaan bahwa mutu paving yang digunakan tidak sesuai dengan spesifikasi yang seharusnya. Bahkan, terdapat indikasi yang mengarah pada penggunaan paving bermutu K-250, bukan K-300 sebagaimana disebut dalam sorotan terhadap proyek tersebut.
Meski demikian, dugaan perbedaan mutu tersebut belum dapat dipastikan hanya berdasarkan pengamatan visual. Kepastian mengenai mutu material harus didasarkan pada dokumen spesifikasi teknis, bukti pengadaan, serta hasil pengujian oleh pihak yang kompeten.
Begitu pula dengan dugaan lemahnya pemadatan dan pemasangan. Kedua aspek tersebut perlu diperiksa untuk mengetahui apakah kerusakan berkaitan dengan kualitas material, pelaksanaan konstruksi, kondisi tanah dasar, beban kendaraan, atau kombinasi sejumlah faktor.
Pemeriksaan yang objektif diperlukan agar persoalan ini tidak berhenti pada dugaan, melainkan menghasilkan kejelasan mengenai kondisi pekerjaan yang sebenarnya.
Kondisi jalan paving yang mulai rusak dalam waktu singkat menimbulkan kekhawatiran terhadap daya tahan infrastruktur tersebut. Terlebih, jalan desa berpotensi digunakan untuk mendukung aktivitas masyarakat, termasuk mobilitas kendaraan pengangkut hasil pertanian.
Apabila lapisan dasar dan pasir alas tidak memiliki kepadatan yang memadai, beban kendaraan berat berpotensi menyebabkan paving bergeser, permukaan jalan bergelombang, bahkan mengalami penurunan pada bagian tertentu.
Jika kerusakan terus berkembang tanpa penanganan yang tepat, manfaat pembangunan jalan bagi masyarakat dikhawatirkan tidak akan optimal. Warga pun berpotensi menghadapi persoalan serupa dalam waktu dekat, meskipun anggaran pembangunan telah dikucurkan.
Di titik inilah kualitas pekerjaan menjadi persoalan penting. Infrastruktur desa semestinya tidak hanya selesai secara administratif, tetapi juga memenuhi spesifikasi teknis dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
TPK Desa Sidowarek Belum Memberikan Klarifikasi
Upaya konfirmasi kepada pihak Tim Pengelola Kegiatan (TPK) Desa Sidowarek telah dilakukan untuk meminta penjelasan mengenai kondisi jalan, kualitas material yang digunakan, serta pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
Namun, hingga berita ini ditulis, pihak TPK belum memberikan tanggapan atas upaya konfirmasi tersebut.
Belum adanya jawaban dari pihak pelaksana membuat sejumlah pertanyaan mengenai proyek ini masih membutuhkan penjelasan. Di antaranya, apakah pekerjaan telah dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis, bagaimana proses pengawasan dilakukan, serta apakah kondisi kerusakan tersebut telah diketahui dan akan ditindaklanjuti oleh pihak terkait.
Tidak adanya tanggapan tersebut tidak serta-merta membuktikan adanya penyimpangan. Karena itu, klarifikasi dari TPK maupun pemerintah desa tetap diperlukan agar persoalan ini dapat dilihat secara berimbang.
Perlu Evaluasi, Jangan Tunggu Kerusakan Meluas
Dengan total anggaran hampir Rp200 juta, kondisi jalan paving di Dusun Genjong Kidul layak mendapatkan perhatian dari pemerintah desa dan instansi terkait.
Pemeriksaan lapangan secara menyeluruh diperlukan untuk memastikan kesesuaian volume pekerjaan, mutu material, metode pemasangan, serta spesifikasi teknis yang tercantum dalam dokumen pelaksanaan. Apabila ditemukan ketidaksesuaian, pihak pelaksana perlu diminta melakukan perbaikan sesuai ketentuan yang berlaku.
Transparansi juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan anggaran pembangunan desa. Masyarakat berhak mengetahui bagaimana uang negara digunakan, bagaimana kualitas pekerjaan dijaga, dan bagaimana tanggung jawab pelaksana dijalankan.
Pada akhirnya, persoalan jalan paving di Desa Sidowarek bukan sekadar tentang paving yang retak atau susunan yang renggang. Lebih dari itu, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa setiap rupiah anggaran pembangunan harus menghasilkan infrastruktur yang layak, berkualitas, dan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.
Sebab, jalan yang baru dibangun seharusnya membawa manfaat jangka panjang, bukan justru memunculkan tanda tanya ketika belum genap sebulan digunakan.
Reporter: Adi














