ENDE- Krisis air bersih yang kerap menghantui masyarakat Desa Rorurangga, Kecamatan Pulau Ende, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) di musim kemarau perlahan menemukan jawaban. Laznas Al Irsyad Al Islamiyyah Pusat membantu 17 titik sumur bor di 9 Desa, Senin (20/10/2025).
Kehadiran akses air bersih ini disambut penuh haru warga Desa Rorurangga. Aisyah(52), salah seorang warga menangis terharu saat mencicipi air tawar.
“Alhamdulilah Ya Allah, kami sangat senang dengan hadirnya air tawar ini, dari sejak nenek moyang kami sampai sekarang kami baru merasakan jernihnya air tawar,” ucap Aisyah spontan sambil menangis usai mencoba air bersih hasil sumur bor.
Ia mengenang bagaimana setiap pagi dan sore harus berjalan jauh sambil membawa ember atau jerigen itupun hanya mendapat air asin/payau.

Kades Rorurangga Muh Ikbal Puarera Mengucapkan terimakasih kepada Laznas Al Irsyad Al Isamiyyah pusat atas bantuan sumur bor tersebut kepada warganya.
“Rasa terimakasih kami kepada Laznas Al Irsyad Al Islamiyyah ini yang sudah memberikan yang terbaik untuk kami, layaknya warga kami baru merdeka merasakan air tawar ini sendiri dan ini merupakan harapan baru bagi kami “. Ungkap Kades Ikbal.
Bagi Ikbal sumur bor ini bukan sekadar ketersediaan air, tetapi juga harapan baru bagi anak-anak dan seluruh warga desanya untuk tumbuh lebih sehat dan hidup lebih layak.
Ia pun berpesan agar seluruh warga menjaga fasilitas air bersih ini dengan sebaik-baiknya.
Lebih dari itu, keberadaan sumur bor ini merupakan simbol kehadiran Pahlawan bernama Laznas di tengah rakyat yang membutuhkan.
Sementara Chairun Nisa Pengurus Laznas Al Irsyad Al Islamiyyah Pusat kepada media ini mengungkapkan bahwa krisis air bersih telah lama menjadi persoalan mendesak bagi masyarakat Desa Rorurangga Pulau Ende dan Kecamatan Pulau Ende pada umumnya.
Selama bertahun-tahun Kata Nisa, warga desa Rorurangga keterbatasan air tawar. Sebagian besar sumur hanya menghasilkan air asin, memaksa anak-anak berangkat sekolah tanpa mandi dan para orang tua menggunakan air laut untuk menjalankan ibadah (berwudhu). Adapun air tawar yang tersedia diperdagangkan dengan harga yang sangat tinggi, mencapai Rp7.500 per-jerigen. Cukup berat bagi para nelayan dan petani yang berpenghasilan terbatas.
” Selama bertahun-tahun, warga di Di Pulau Ende dengan keterbatasan air tawar. Sebagian besar sumur hanya menghasilkan air asin, memaksa anak-anak berangkat sekolah tanpa mandi dan para orang tua berwudhu menggunakan air laut. Harga air tawar pun sangat tinggi mencapai Rp7.500 per jerigen. Cukup berat dan menjadi beban bagi para nelayan dan petani yang berpenghasilan terbatas “. Ungkap Nisa.
Kondisi inilah yang kemudian menggugah Nisa dan Laznas Al Irsyad menggagas Program Pembangunan Sumur Air Tawar Pulau Ende 2025 sebagai bagian dari upaya nyata untuk menghadirkan solusi berkelanjutan bagi masyarakat. Program ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan wujud kepedulian sosial dan bentuk amal jariyah yang manfaatnya akan mengalir panjang bagi kesejahteraan warga.
Nisa Juga Menjelaskan bahwa Perjalanan program ini dimulai pada pertengahan Agustus 2025, ketika Tim pertama kali berangkat ke Pulau Ende untuk melakukan sosialisasi, penjajakan lapangan, serta pengurusan wakaf tanah. Setelah itu, Tim Kedua menjalankan survei geologi untuk memastikan titik-titik potensial yang berpotensi menghasilkan air tawar dalam jumlah cukup. Kini, giliran Tim Ketiga yang bersiap mengeksekusi pembangunan sumur, sebelum nantinya Tim Keempat melanjutkan program dengan kegiatan pengembangan masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Dalam tahap awal, Laznas Al Irsyad menargetkan pembangunan 17 sumur air tawar di Pulau Ende sesuai hasil survei yang telah ditetapkan, ditambah 3 sumur di daratan Ende, sehingga totalnya mencapai 24 titik sumur. Selain itu, tim juga masih melakukan pencarian 6 titik potensial lainnya di wilayah Kota Ende.
Proses pembangunan ini diperkirakan akan memakan waktu antara dua hingga tiga bulan, meski estimasi pastinya baru dapat diketahui setelah uji pengeboran pada satu hingga dua titik pertama.
Pihaknya juga menyatakan Kabar gembira datang dari lapangan dua titik sumur pertama, yakni Sumur 2A dan 2B di Dusun Ekoreko, Desa Rorurangga, telah berhasil mengeluarkan air tawar dengan debit sementara mencapai 22 liter per menit. Menurut tim pelaksana, angka ini masih berpotensi meningkat setelah proses pembersihan pori-pori akuifer dilakukan.
” Kehadiran air tawar di tanah yang selama ini kering dan asin menjadi tanda awal perubahan besar. Program ini tidak hanya menjawab kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga membuka peluang peningkatan kualitas hidup, mendukung kegiatan pendidikan, dan mempermudah warga dalam beribadah.” Ujar Nisa
Melalui Program Sumur Air Tawar Pulau Ende 2025, Laznas Al Irsyad menunjukkan bahwa secercah harapan dapat tumbuh di tengah keterbatasan. Dari setiap tetes air yang mengalir tersimpan doa, kerja keras, dan semangat gotong royong untuk kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat Pulau Ende.















