Boven Digoel, Mmcnews – Tambang emas ilegal di Kawe, perbatasan Kabupaten Yahukimo dan Pegunungan Bintang, kembali menelan korban jiwa. Dalam empat hari terakhir, setidaknya 12 penambang tewas dalam rangkaian serangan brutal yang diduga dilakukan oleh kelompok bersenjata. Tragedi ini kembali menyoroti lemahnya pengawasan negara terhadap aktivitas tambang liar di wilayah rawan konflik Papua.
Korban terbaru, seorang penambang asal Tanah Merah berinisial R berdarah suku Toraja, tewas mengenaskan setelah diserang sekelompok pria bersenjata panah dan parang pada Rabu (9/4) sore. Ia diserang saat hendak mengakhiri aktivitas menambang. Tiga rekannya yang berhasil melarikan diri menyebut serangan berlangsung cepat dan tanpa peringatan. R tewas di tempat setelah terkena panah dan bacokan.
R bukan satu-satunya korban. Sejak 6 April, total 11 penambang lainnya tewas dalam serangkaian serangan serupa. Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat – Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengklaim bertanggung jawab atas aksi-aksi tersebut, dengan dalih penolakan terhadap eksploitasi sumber daya alam oleh pendatang.
Aksi kekerasan ini memicu eksodus besar-besaran. Sekitar 3.000 penambang kini berbondong-bondong meninggalkan lokasi tambang. Banyak yang menempuh perjalanan panjang menyusuri hutan dan sungai demi menyelamatkan diri. Sebanyak 80 orang dijadwalkan tiba di Tanah Merah malam ini, sebagian lainnya masih dalam perjalanan.
Upaya evakuasi korban pun terhambat. Hingga kini, 11 jenazah dari korban serangan sebelumnya belum bisa dievakuasi karena medan berat dan situasi keamanan yang sangat labil. Pemerintah daerah belum memberikan keterangan resmi mengenai rencana tanggap darurat ataupun pengamanan di lokasi tambang.
Tambang Kawe selama ini dikenal sebagai “surga emas liar”, tempat ribuan orang mengadu nasib tanpa perlindungan hukum maupun fasilitas dasar. Lokasinya yang terpencil, sulit dijangkau, dan jauh dari kontrol aparat membuat kawasan ini berubah menjadi ladang konflik berkepanjangan antara pendatang dan kelompok bersenjata lokal.
Ironisnya, di tengah kekayaan alam yang luar biasa, para penambang justru terus menjadi korban. Bekerja tanpa izin, tanpa jaminan keselamatan, dan kini tanpa nyawa. ***















