MMCNEWS.ID | Di sebuah gang sempit bernama Gang Buntu, Dusun Mancilan, RT/RW, 01/01, deru suara palu dan cangkul memecah kesunyian. Bukan proyek pemerintah, melainkan derap langkah gotong royong warga Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung, Jombang. Yang sedang berjuang mewujudkan mimpi sederhana seorang ayah tunggal.
Setyo Wibowo (58), sosok pria paruh baya yang selama bertahun-tahun harus menelan pil pahit kemiskinan. Meski memiliki sepetak tanah, mimpinya untuk memiliki atap yang layak bagi putra semata wayangnya yang masih berusia (7) tahun selalu kandas di tengah jalan.
Melihat kondisi Setyo yang memprihatinkan, warga tidak tinggal diam. Melalui musyawarah mufakat, warga bersama Pemerintah Desa Mancilan sepakat untuk membangun hunian swadaya.
“Alhamdulillah, kami sepakat mendirikan bangunan meski sederhana. Yang terpenting, Pak Setyo dan anaknya tidak lagi kehujanan dan punya tempat tinggal yang layak,” ujar Kepala Desa Mancilan, Atim Riduwan, Senin (20/04/2026).
Namun, semangat saja ternyata tidak cukup. Atim mengakui bahwa dana swadaya yang terkumpul sangatlah terbatas karena kondisi ekonomi masyarakat yang juga sedang sulit. Saat ini, pembangunan rumah tersebut masih “terseok-seok” dan membutuhkan bantuan mendesak.
Sanitasi dan Kamar Mandi, Fasilitas vital yang belum tersedia. Material Finishing, Lantai dan dinding yang belum sempurna. Kelengkapan Interior, Agar layak huni bagi anak usia sekolah.
Masalah Setyo tidak berhenti pada dinding rumah yang belum jadi. Dengan mata berkaca-kaca, ia menceritakan beban lain yang menghimpit pundaknya.
Sebagai lansia yang baru kembali dari perantauan, Setyo kini tidak memiliki jaminan kesehatan yang aktif. Ia memiliki BPJS, namun statusnya nonaktif karena tunggakan yang menumpuk.
“Saya tidak punya uang untuk bayar tunggakan. Saya hanya ingin kalau sakit bisa berobat gratis, supaya tidak bingung memikirkan biaya,” keluhnya.
Pemerintah Desa Mancilan kini menaruh harapan besar pada Dinas Sosial maupun Dinas Perkim Kabupaten Jombang. Pasalnya, desa tersebut telah mengajukan 24 unit program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), dan kasus Pak Setyo diharapkan bisa menjadi prioritas tambahan.
Harapannya, Bantuan sisipan RTLH. Untuk merampungkan pembangunan rumah Setyo. Dan Aktivasi KIS (Kartu Indonesia Sehat). Agar ayah dan anak ini mendapatkan jaminan kesehatan.
Mengingat Setyo adalah lansia dengan anak kecil yang sangat rawan secara ekonomi. “Kami berharap ada perhatian serius. Ini kondisi darurat bagi warga kami,” pungkas Atim Riduwan.
Potret di Desa Mancilan ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa di tengah kemajuan zaman, masih ada warga yang harus bertaruh antara biaya makan, tempat tinggal, dan kesehatan. Kini, bola bantuan ada di tangan para pemangku kebijakan.
Reporter: Adi















