MMCNEWS.ID | Di tengah kepungan budaya Jawa yang kental di Kabupaten Jombang, terdapat sebuah fenomena unik yang terus bertahan selama ratusan tahun, yaitu. Desa Manduro, yang terletak di Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, menjadi bukti nyata kesetiaan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur, bahasa, dan tradisi Madura.
Menurut penjelasan Kepala Desa Manduro, Jamilun. Keberadaan warga berbahasa Madura di wilayah Utara Jombang ini bukanlah kebetulan. Berdasarkan sejarah turun-temurun, warga Manduro diyakini sebagai keturunan prajurit Kerajaan Majapahit asal Madura.
“Pasalnya, Orang Manduro itu asalnya dulu adalah prajurit dari Majapahit. Keberadaannya sudah sekitar 500 tahun sejak runtuhnya Majapahit,” ujar Jamilun saat bercerita asal usul berdirinya Desa Manduro, Rabu (22/04/2026).
Nama “Manduro” sendiri mulai diresmikan sekitar tahun 1913-1914 oleh Carik Wayo (Sekdes saat itu). Nama ini diambil dari simbol pewayangan, yakni keturunan dari Mandura yang merujuk pada perjalanan Prabu Baladewa.
Bukan hanya bahasa yang unik, Desa Manduro juga dikenal memiliki sisi spiritualitas yang kuat. Salah satu pusat mistis desa ini adalah makam Buyut Niko atau yang memiliki gelar Tuan Nata. Kehadiran tokoh ini dianggap sebagai cikal bakal komunitas Manduro yang kini berkembang hingga lebih dari 3.500 jiwa.
“Ada aturan sakral yang masih dijaga ketat di makam ini yaitu ketika perempuan yang sedang menstruasi dilarang keras memasuki area makam dan yang kaki-laki ketika hendak berziarah atau bermeditasi harus dalam keadaan suci dan dilarang berhubungan suami istri sebelum datang ke sana.
Selain itu, desa ini kaya akan situs sejarah seperti Gunung Kemendung, Sendang Weji, dan Situs Jeladri yang merupakan peninggalan era Majapahit. Seni Sandur dan Ritual “Sentren”.
Salah satu warisan budaya yang paling menonjol adalah Kesenian Sandur. Tradisi ini rutin digelar pada Jumat Legi di bulan Selo (penanggalan Jawa). Uniknya, dalam prosesi ini terdapat ritual Sentren, di mana alat gamelan dan para penari “disentrenkan” atau disucikan di Gunung Kemendung sebelum tampil.
Warga juga rutin menggelar Selamatan Bari’an setiap satu bulan sekali pada Jumat Legi di perempatan atau protokol jalan sebagai bentuk syukur dan doa keselamatan bagi seluruh warga.
Meski zaman terus berubah, Jamilun menaruh harapan besar pada pundak generasi muda Manduro. Ia menegaskan bahwa identitas sebagai orang Madura di tengah pemukiman Jawa adalah sebuah kebanggaan yang harus dirawat.
“Harapan saya, mari kita ‘uri-uri’ (lestarikan) bersama adat budaya ini. Terutama bahasa keseharian kita, yaitu bahasa Madura, jangan sampai pudar. Kita harus bangga, selama 500 tahun kita mampu bertahan dengan identitas lokal kita sendiri,” pungkasnya dengan penuh harap.
Bagi warga Manduro, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan pengikat rasa persaudaraan dan saksi bisu sejarah panjang yang tak boleh hilang ditelan masa.
Reporter: Adi















