Wujudkan Pelestarian Budaya, Kades Manduro Berharap Bahasa Madura Masuk Kurikulum Sekolah

  • Bagikan

MMCNEWS.ID | Di sudut Kabupaten Jombang, tepatnya di Desa Manduro, Kecamatan Kabuh, tersimpan kekhasan budaya yang luar biasa. Warga desa ini dikenal sebagai masyarakat yang dapat menguasai tiga bahasa sekaligus secara alami.

Namun, di balik kemampuan tersebut, terselip kekhawatiran mendalam akan hilangnya identitas bahasa asli mereka, terutama penggunaan bahasa Madura kromo (halus) di kalangan generasi muda.

Dalam sebuah obrolan santai, Jamilun selaku Kepala Desa Manduro menjelaskan, bagaimana mereka secara otomatis menguasai tiga bahasa sekaligus, yakni. Bahasa Madura yang digunakan sebagai bahasa percakapan internal antar warga. Kemudian Bahasa Jawa yang digunakan saat berinteraksi dengan warga dari desa tetangga, serta Bahasa Indonesia yang digunakan dalam forum resmi atau saat kedatangan tamu dari instansi pemerintah.

“Nah, secara tidak langsung, kami punya tiga bahasa. Tapi uniknya, logat Madura kami sangat kental, tidak bisa hilang meskipun kami bicara bahasa Jawa atau Indonesia,” ujar Kepala Desa Manduro kepada wartawan di kantor desa, Rabu (22/04/2026)

Meski bahasa Madura masih digunakan sehari-hari, ada satu aspek yang mulai terkikis zaman, yaitu bahasa Madura kromo. Dulu, masyarakat Manduro sangat memperhatikan tingkatan bahasa saat berbicara dengan orang yang lebih tua, serupa dengan sistem unggah-ungguh dalam bahasa Jawa.

Namun kalau dilihat di jaman sekarang, anak muda yang menggunakan bahasa halus ini kian langka. “Sekarang bahasa kromo itu hampir punah. Beda dengan zaman orang tua atau kakak-kakak kita dulu,” keluh Jamilun

Kepala Desa Manduro mendesak Pemerintah Kabupaten Jombang, khususnya. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk memberikan perhatian khusus. Saya mengusulkan agar Bahasa Madura dimasukkan ke dalam kurikulum Muatan Lokal (Mulok) di sekolah-sekolah dasar di wilayah Manduro.

Tak dipungkiri hambatan utama saat ini adalah ketiadaan buku panduan (kurikulum) dan tenaga pengajar yang kompeten. Warga berharap pemerintah bisa menjembatani hal ini, bahkan jika harus mendatangkan guru atau ahli bahasa dari Sumenep atau Sampang Madura.

“Harapan saya, mbok ya ada perhatian khusus. Kami ingin ada muatan lokal bahasa Madura agar strata bahasa ini tetap terjaga dan tidak hilang dimakan zaman,” Pungkas Jamilun.

Reporter: Adi

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan