Misteri 9 Lubang Gaib di Desa Latsari, Jejak Pelarian Maling Caluring dan Putri Bajang

  • Bagikan
Oplus_131072

MMCNEWS.ID | Desa Latsari, adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Namun, desa ini menyimpan sebuah legenda kuno yang masih hidup dan banyak di bicarakan warga hingga saat ini.

Warga Jombang wajib tau, bahwa desa ini berada di ujung Kecamatan Mojowarno, yang menyimpan misteri berupa sembilan lubang gowa yang diyakini menjadi saksi bisu pengejaran legendaris masa lalu.

Menurut penjelasan Kepala Desa Latsari, pak Muslikan. Keberadaan gowa-gowa ini tidak lepas dari kisah Maling Caluring yang mencoba mencuri Putri Bajang dari desa tetangga, Karanglo.

Dalam pelariannya, Maling Caluring melintasi tepian sungai di wilayah Desa Latsari dan menciptakan sembilan titik lubang sebagai tempat persembunyian. Hingga kini, lokasi lubang-lubang tersebut masih bisa ditemukan dan dilihat dengan jelas, meski aksesnya cukup menantang.

“Gowa ini ukurannya tidak terlalu besar. Kalau masuk, kita tidak bisa berpapasan, harus satu arah dan sedikit membungkuk,” ujar Kades Muslikan ketika di wawancarai mmcnews.id, Jumat (24/04/2026).

Meski memiliki nilai sejarah dan potensi wisata yang tinggi, pelestarian gowa-gowa ini menghadapi kendala yang unik. Dari sembilan lubang gowa yang ada, dua lubang berada di tengah sawah, empat di antaranya berada di tanah milik warga, sementara tiga lainnya kini berada di area pabrik. bahkan dua lubang telah tertutup oleh mesin pabrik, sementara yang lainnya masih menyisakan lubang kecil yang digunakan untuk saluran pembuangan air.

Pihak desa mengakui bahwa upaya menjadikan lokasi ini sebagai cagar budaya cukup sulit karena status kepemilikan tanah warga yang memerlukan proses ganti rugi.

Nuansa mistis pun menyelimuti keberadaan gowa-gowa ini. Warga meyakini setiap lubang memiliki “penunggu” tersendiri. Yang paling dikenal adalah sosok Eyang Kerto Joyo yang menghuni di gowa nomor sembilan, dan istrinya, Nyai Sungging, di gowa nomor delapan.

Sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur. Pemerintah Desa Latsari rutin menggelar ritual Bersih Desa setiap bulan Suro diantaranya, yaitu. Sedekah Desa dengan cara Doa bersama dan makan dengan warga di balai desa.

Selain itu kita melakukan ngaji bersama yang merupakan bentuk spiritual untuk memohon keselamatan desa, supaya masyarakat Latsari dijauhkan dari mala bahaya atau petaka dan hidupnya adem ayem tentrem. Nah, karena itu kami dan warga mengadakan pagelaran wayang, kesenian tradisional ini menjadi puncak hiburan sekaligus pelestarian budaya.

 

Suyono (69) warga Desa Latsari, mengatakan sembari menunjukkan tempat gowa pertama, sebuah lubang yang kini seolah menolak untuk ditemukan. Sebuah gowa yang tersembunyi rapat di balik pepohonan dan semak belukar yang mustahil ditembus.

Tak jauh dari sana, kita disuguhkan dengan gowa urutan ke dua yang kedalaman mencapai 6 meter, dalam gowa itu terlihat sangat jelas dan terdengar derasnya air yang mengalir menuju arah sungai.

“Dulu saya dan warga Lainnya berani masuk ke sana hanya untuk satu tujuan, yaitu mencari sarang burung sriti,” karena dulu gowa ini banyak di huni sama burung sriti”, kata Suyono menceritakan waktu masuk kedalam gowa tersebut.

Bergerak ke arah kebun, lubang gowa ketiga ditutup dengan eraman besi yang tujuannya untuk melindunginya. Bukan karena angker, melainkan demi menjaga keselamatan anak-anak atau warga desa yang sering melintas di area tersebut.

Sementara itu, gowa ke empat menyimpan aura yang berbeda. Yang terletak di pekarangan warga, tempat ini dulunya adalah sebuah punden keramat yang dijaga oleh pohon Kepuh raksasa.

Hingga kini, ingatan Suyono tentang para pemain kuda lumping dan dalang wayang datang kesini meminta restu dulu ke punden ini sebelum tampil naik ke atas panggung.

Berlanjut ke area industri. Gowa Kelima, yang terletak di tanah pabrik, dikenal memiliki aliran air paling deras di antara semuanya. Namun, yang membuat bulu kuduk berdiri adalah mitos yang menyertainya. konon, lorong gowa ini menembus ruang dan waktu hingga mencapai jantung Kerajaan Majapahit yang terletak di wilayah Mojokerto.

Di dalam bangunan pabrik itu sendiri, terdapat gowa ke enam dan Ketujuh. Sayangnya, jejak gowa kini telah terkunci rapat dan ditutup secara permanen oleh pemilik pabrik”, tambahnya.

Menelusuri beberapa gowa, yaitu gowa kedelapan yang berada di tengah persawahan, dikelilingi tumbuhan liar yang tumbuh tak beraturan. Warga meyakini tempat ini adalah singgasana bagi Nyai Sungging, istri dari Kyai Kertojoyo. Aura mistisnya begitu kental, seolah sang Nyai masih mengawasi siapa yang berkunjung ke gowa.

Gowa yang terakhir, yang ke sembilan ini dipercaya sebagai tempat persemayaman Kyai Kertojoyo sendiri, sang tokoh legendaris yang namanya harum sekaligus disegani di tanah ini.

Menariknya, sejarah yang dimiliki Desa Latsari dan Karanglo ternyata saling bertautan. Sosok leluhur yang “mbabat alas” atau membuka lahan di wilayah ini diketahui dimakamkan di Desa Karanglo, Mojowarno. Bukan di Latsari. Hal ini memperkuat ikatan persaudaraan antar kedua desa yang sama-sama menjaga terkait legenda Putri Bajang.

Reporter: Adi

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan